VIVAnews - Kamboja mengklaim telah berhasil melakukan uji coba peluncur roket BM-21 untuk kali pertama sejak perang sipil di Kamboja berakhir satu dekade lalu, Kamis 4 Maret 2010. Deputi Perdana Menteri merangkap Menteri Pertahanan Nasional Kamboja, Tea Banh, mengatakan, kesuksesan tersebut membuktikan kompetensi penuh Kamboja dalam membela integritas dan kedaulatan negara.
Seperti dikutip dari laman People's Daily, Tea Banh mengatakan, 215 roket berhasil ditembakkan dari peluncur roket ke wilayah udara yang berjarak 180 kilometer dari perbatasan dengan Thailand. Uji coba ini dilakukan di tengah konflik perbatasan dengan Thailand yang hingga kini belum selesai.
Namun Tea Band menegaskan bahwa uji coba roket ini bukan untuk bersiap mengobarkan perang dengan negara manapun. Tea Band mengatakan ini adalah upaya Kamboja untuk bersiaga terhadap invasi dari negara lain.
Kamis pekan lalu, Perdana Menteri Hun Sen juga mengatakan bahwa Kamboja telah memiliki BM-21 sejak era 1980-an dan latihan militer biasa dilakukan di berbagai negara. Uji peluncuran nuklir ini pertama kali diumumkan oleh Hun Sen pada 24 Februari lalu.
Saat itu, Hun Sen mengatakan, militer akan melakukan latihan dengan menembakkan roket BM-21 sebanyak 200 kali untuk memastikan perangkat militer itu berfungsi baik. Selain itu, juga untuk menguji kualitas peluncur roket BM-21 setelah disimpan cukup lama di tempat penyimpanan.
Khawatir dengan kemungkinan muncul kritik dari pihak luar, Hun Sen mengatakan, uji coba ini bukan untuk pamer otot, tetapi hanya untuk mengecek kapasitas urusan militer Kamboja sebagai negara berdaulat. Kamboja, kata Hun Sen, memposisikan diri sebagai negara damai dan tidak ingin berperang dengan negara lain.