VIVAnews - Sebanyak 40 orang wisatawan lokal Cile sedang menikmati liburan musim panas dengan berjemur di pinggir pantai resor Pelluhue, Provinsi Cauquenes, Maule. Mereka tidak tahu bila liburan mereka berakhir mengenaskan.
Saat gempa mengguncang Sabtu pekan lalu, mereka tahu bahwa mereka harus segera menuju ke dataran yang lebih tinggi untuk mengantisipasi gelombang tsunami yang biasanya muncul tak lama setelah gempa. Namun mereka gagal mengantisipasi serangan gelombang laut itu.
Tsunami datang dalam tiga gelombang dan melanda wilayah kota resor di Lautan Pasifik tersebut itu hingga sejauh 200 meter dan menyapu bus berisi para wisatawan yang berharap bisa lebih cepat mencapai dataran lebih tinggi menggunakan bus. Sebagian besar mereka yang berada di dalam bus adalah pensiunan. Hanya lima jenazah dari 40 orang itu yang berhasil ditemukan.
Peristiwa di Pelluhue tersebut makin menambah kepiluan akibat gempa yang terjadi menjelang fajar dan menewaskan hampir 800 orang tersebut, serta menyebabkan penjarahan merajalela di kota-kota yang kekurangan makanan, air, dan listrik.
Sebagian besar korban tewas terjadi di wilayah perairan Cile selatan-tengah, yang paling dekat dengan episentrum gempa, yakni di wilayah Maule, termasuk Pelluhue. Warga yang berhasil selamat menemukan sekitar 20 mayat. Sekitar 300 rumah hancur.
"Kami berlari ke dataran yang lebih tinggi sambil berteriak-teriak pada orang lain untuk keluar dari rumah," kata Claudio Escalona, 43 tahun, yang tinggal di dekat lokasi wisata. Dia menyelamatkan diri bersama istri dan dua putrinya, masing-masing berusia 4 dan 6 tahun.
"Sekitar 20 menit kemudian, datang tiga gelombang yang dua di antaranya sangat besar, masing-masing sekitar 6 meter, dan gelombang ketiga bahkan lebih besar. Yang paling besar itu yang menyapu semua bangunan," kata Escalona.
Badan Penganggulangan Bencana Cile, Selasa 2 Maret 2010, menaikkan jumlah korban tewas akibat gempa menjadi 796 dari 723. Kerusakan infrastruktur semakin meluas dan kekurangan bahan pangan terjadi di sepanjang pesisir, di kota-kota seperti Talca dan Cauquenes, Curico dan San Javier.
Di Curanipe, gereja setempat berfungsi sekaligus menjadi tempat penyimpanan mayat. Sedangkan di Cauquenes, warga segera mengubur korban karena rumah pemakaman tidak memiliki listrik.
Di sebuah desa di kota Dichato, kaum muda setempat yang sedang berpesta di pantai menjadi orang pertama yang memperingatkan penduduk setelah air di teluk menyusut satu jam setelah gempa. Mereka berlarian ke jalan sambil berteriak-teriak. Polisi kemudian bergabung dengan anak-anak muda itu dan ikut memperingatkan penduduk menggunakan pengeras suara.
Air di pantai di Dichato naik setinggi rumah dua lantai. "Radio maritim bilang tidak akan terjadi tsunami," kata seorang warga Dichato, Rogilio Reyes, yang mendapat peringatan dari para remaja yang berteriak-teriak itu.
Wali kota Dichato, Eduardo Aguilera, mengatakan, 49 orang hilang dan 800 rumah hancur di wilayahnya. Beberapa orang yang sempat berlari ke dataran lebih tinggi setelah gempa, datang kembali dan justru terkena tsunami. (Associated Press)