VIVAnews - Baru sepuluh tahun berdemokrasi, parlemen di Indonesia kini rutin dengan suasana huru-hara dan perdebatan yang menjurus ke kontak fisik setiap kali mengadakan rapat. Dikhawatirkan, kelakuan para wakil rakyat di negeri ini bisa menyaingi tingkah para politisi di Taiwan.
Bagi para anggota parlemen di Taiwan, huru-hara berdemokrasi itu sudah dianggap pemandangan biasa. Bahkan, mereka pun menghalalkan adu jotos dengan para anggota dari kelompok lain selama rapat demi memperjuangkan kepentingan partai, tentu dengan embel-embel mengatasnamakan rakyat.
Setelah jeda dua tahun, parlemen Taiwan, Legislative Yuan, awal tahun ini kembali diramaikan dengan tawuran di ruang rapat. Peristiwa itu berlangsung pada 18 Januari 2010.
Ketika itu, lebih dari 70 anggota dewan yang terhormat saling pukul dan adu rangkul ibarat pegulat WWF. Berbagai jurus pun mereka keluarkan, mulai dari mencekal baju hingga memaki-maki lawannya.
Laman harian Daily Mail mengungkapkan bahwa tawuran itu terjadi setelah para politisi dari Partai Nasionalis (Kuomintang), yang tengah berkuasa, dan kubu oposisi pimpinan Partai Demokratik Progresif (DPP) gagal mencapai konsensus mengenai perubahan Undang-undang Pemerintahan Daerah.
"Konflik yang diwarnai kekerasan itu muncul setelah DPP kehabisan cara untuk menghentikan rencana perubahan itu," demikian pernyataan Kuomintang. Perubahan undang-undang pun berhasil disahkan, namun menyebabkan tiga anggota parlemen dari Kuomintang luka-luka.
Para anggota parlemen dari DPP saat itu berupaya merebut mikropon ketua sidang demi mencegah dia mensahkan perubahan undang-undang. Namun, para politisi Kuomintang tidak mau terima begitu. Baku hantam pun tak terhindarkan.
Ini merupakan kali pertama terjadi tawuran di parlemen Taiwan dalam dua tahun terakhir. Padahal pada Januari 2008, para anggota parlemen dari Kuomintang sudah bersumpah tidak membiarkan terjadinya baku hantam di ruang rapat.
Suasana ini tampak sudah menjadi ciri khas parlemen Taiwan. Sejak beralih dari rezim diktator menjadi era pemerintahan demokratik pada 1987, parlemen Taiwan selalu diwarnai ketegangan antara dua faksi yang bertentangan.
Pada 2004, seorang politisi menyarankan agar para anggota parlemen harus menjalani tes anti mabuk (breathalyser) untuk mencegah munculnya baku hantam.