Dunia

Pakai Uang Rakyat Rp 6 Juta, Menteri Mundur

Menteri Perumahan Selandia Baru mengundurkan diri setelah ketahuan membeli 2 botol anggur.

Kamis, 25 Februari 2010, 18:15 WIB
Hadi Suprapto, Harriska Farida Adiati
Suasana rapat parlemen di Selandia Baru (www.parliament.nz)

VIVAnews - Menteri Perumahan dan Perikanan Selandia Baru mengundurkan diri setelah ketahuan membeli dua botol arak anggur menggunakan kartu kredit dinas, Kamis 25 Februari 2010.

Phil Heatley telah meminta maaf pada awal pekan ini dan membayarkan kembali uang senilai 1.000 dolar Selandia Baru (sekitar Rp 6 juta) yang digunakannya untuk membeli arak anggur tersebut. Skandal penyalahgunaan kartu kredit pejabat ini diungkapkan sebuah surat kabar Selandia Baru.

Seperti dikutip dari laman stasiun televisi ABC, Heatley membeli dua botol arak anggur untuk konferensi Partai Nasional, tetapi di form pembayaran, Heatley menuliskannya sebagai makanan untuk dirinya dan juga istrinya. Heatley mengaku belum familiar dengan peraturan seputar penggunaan kartu kredit dan keliru menggunakannya.

"Saya menandatangani dokumen yang tidak akurat, dan itu tindakan yang terlalu jauh," kata Heatley.

Seorang auditor pemerintah akan menyelidiki tagihan kartu kredit Heatley dan bila terbebas dari tuduhan, dia bisa kembali ke kabinet.

Perdana Menteri Selandia Baru John Key menganggap, skandal tersebut sebagai kekeliruan tidak disengaja. "Pada tahap ini saya tidak memiliki alasan untuk percaya bahwa Heatley bertindak tidak jujur," kata Key. "Namun, sangat penting agar auditor menyelidiki persoalan ini untuk memastikan bahwa uang rakyat tidak digunakan secara tidak tepat."

Awal pekan ini, Heatley juga membayarkan uang untuk tagihan-tagihan saat keluarganya berlibur di sela-sela tugas dinasnya. Heatley merupakan menteri kedua dalam pemerintahan Selandia Baru yang mengundurkan diri sejak Partai Nasional memenangkan pemilihan pada 2008. Mantan menteri dalam negeri Richard Worth mundur tahun lalu menyusul tuduhan terkait hubungannya dengan seorang perempuan.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Di Selandia Baru memang percaya dgn pribahasa : "Karena nila setitik rusaklah susu yg sebelanga". Sedangkan di indonesia lebih mempraktekan "karena nila sebelanga rusakin sekalian susu yg setitik".
Balas   • Laporkan
rajinbaca
04/09/2010
waduuhh.... terpujilah negeri yang seperti itu dimana pemimpin memberi contoh teladan bahkan memberi bukti dengan ksatria mundur dan bertanggung jawab.... pak ESBEYE, bu Mega, Gus Dur (alm), pak Habibie, pak Harto (alm), Bung Karno (alm)... gimana neh???
Balas   • Laporkan
eko
26/02/2010
ach.... andaikan di negeri ku seperti ini
Balas   • Laporkan
elkomandante
26/02/2010
Busyetttt deh ............ Luar biasanya org luar yg menganut paham kebebasan tapi tetap memiliki rasa malu yg tinggi ..... hanya gara gara 6 juta'an mengundurkan diri dan bersedia diperiksa ,,,,,, tidak seperti pejabat pejabat dalam negri yg sdh tidak pu
Balas   • Laporkan
elkomandante
26/02/2010
Busyetttt deh ............ Luar biasanya org luar yg menganut paham kebebasan tapi tetap memiliki rasa malu yg tinggi ..... hanya gara gara 6 juta'an mengundurkan diri dan bersedia diperiksa ,,,,,, tidak seperti pejabat pejabat dalam negri yg sdh tidak pu
Balas   • Laporkan
Eka Koswara
26/02/2010
Semestinya pejabat-pejabat kita tiru yg begini gak malu tuh?
Balas   • Laporkan
andi
26/02/2010
Gimana ya kalau di Indonesia, bukan cuma korupsi tapi juga memeras dan tak tau malu, koalisi aja diatas kebenaran
Balas   • Laporkan
jokowi
26/02/2010
Kapan hal ini akan terjadi di Negara kita ,Bumi Persada...jadi bukan agama dan kepercayaan yang kita gembar-gemborkan tetapi apa yang kita perbuat yang harus kita perlihatkan.Di NKRI mana ada kejadian seperti itu..contoh yang jelas masalah Korupsi di Keml
Balas   • Laporkan
bondan nusantara
26/02/2010
Naaa,.. ini contoh pejabat yang bersikap ksatria. Berani mundur dan mengaku salah. Kapan ada pejabat kita yang berani bersikap seperti ini????
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ