VIVAnews - Keresahan para pelaku pasar saham Wall Street atas anjloknya tingkat kepercayaan konsumen di Amerika Serikat (AS) turut menjangkiti para investor di Asia. Itulah sebabnya indeks harga saham di beberapa bursa utama Asia ikut melemah saat perdagangan Rabu, 24 Februari 2010, ditutup.
Indeks Hang Seng di Hong Kong turun 1 persen menjadi 20.421,13. Begitu pula dengan indeks Kospi di Korea Selatan, melemah 1,1 persen menjadi 1.611,84.
Penurunan indeks juga terjadi di bursa Australia, (1,5 persen), China (0,1 persen), dan Singapura (1 persen).
Indeks Nikkei 225 di Jepang pun turun, yakni sebesar 188,82 poin (1,8 persen) menjadi 10.163,28. Kabar tak menyenangkan dari AS berhasil meredam laporan positif mengenai tingkat ekspor Jepang Januari lalu, yang naik lebih dari 40 persen ketimbang periode yang sama di tahun 2009.
Kenaikan ekspor di Jepang itu dipengaruhi meningkatnya permintaan atas produk kendaraan dan barang berteknologi tinggi. Namun, para investor di Tokyo lebih memperhatikan hasil survei dari The Conference Board bahwa indeks kepercayaan konsumen AS di bulan Februari turun, dari 56,5 poin pada bulan lalu menjadi 46 poin.
Jumlah itu jauh di bawah proyeksi para ekonom yang disurvei Thomson Reuters, yang memperkirakan penurunan tidak lebih rendah dari 55 poin.
Hasil itu menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan konsumen saat ini masih jauh dari harapan untuk memperkuat ekonomi AS. Pasalnya, menurut para pengamat, indeks kepercayaan konsumen harus bisa mencapai poin di atas 90 untuk memastikan percepatan pemulihan ekonomi.
Pasalnya, belanja konsumen mempengaruhi 70 persen dari seluruh kegiatan ekonomi AS. Maka, bila belanja konsumen masih rendah sulit diharapkan untuk segera menyaksikan pemulihan ekonomi di Negeri Paman Sam. (Associated Press)