VIVAnews - Indeks harga saham di beberapa bursa utama Asia mengalami penurunan di akhir transaksi Selasa, 23 Februari 2010. Selain mengikuti turunnya indeks di Wall Street, para investor di Asia kembali was-was atas langkah selanjutnya pemerintah China dalam membatasi aliran kredit.
Indeks Nikkei 225 di Jepang turun 68,96 poin (0,7 persen) menjadi 10.331,51. Saham Toyota memimpin penurunan saham, sekitar 1 persen, setelah sehari sebelumnya mengaku sedang menjadi target penyelidikan aparat berwenang dan hukum di AS menyangkut sejumlah produk mobilnya, yang tidak memenuhi standar keselamatan pengendara.
Di China, indeks bursa turun 1,8 persen menjadi 2.950,30. Begitu pula indeks di Korea Selatan dan Australia, masing-masing turun 0,2 dan 0,4 persen.
Pengamat dari Core Pacific-Yamaichi International di Hong Kong, Belle Liang, menilai bahwa turunnya indeks di sejumlah bursa menandakan bahwa para investor Asia turut khawatir dengan masih lambatnya pemulihan ekonomi di AS.
Beberapa indikatornya adalah tingkat pengangguran yang masih tinggi (di atas 9 persen) dan proyeksi bernada pesimistis dari sejumlah perusahaan produk konsumen di Wall Street mengenai belum normalnya tingkat belanja konsumen - yang mempengaruhi 70 persen dari kegiatan ekonomi di Negeri Paman Sam.
Selain itu, para investor juga resah dengan kebijakan pemerintah China yang sejak bulan lalu bertekad menghambat aliran kredit untuk mengendalikan laju pertumbuhan ekonomi sekaligus mencegah penggelembungan aset-aset properti.
"Dua hal itu telah mengganggu para investor dalam beberapa hari terakhir," kata Liang. Dia memperkirakan bahwa pasar Asia dalam beberapa pekan mendatang akan kembali melakukan aksi borong saat mereka akan beralih pada laporan sejumlah korporat di China, yang mulai melaporkan pendapatan di triwulan terakhir 2009.
Para investor Asia pun menunggu rapat antara Gubernur Bank Sentral AS (The Fed), Ben Bernanke, dan para anggota Kongres pada pertengahan pekan ini. Dalam dua tahun terakhir, apapun yang dikatakan pejabat tinggi Bank Sentral AS itu mendapat perhatian besar dari para pelaku pasar karena The Fed memberi pengaruh besar bagi pemulihan ekonomi AS dari krisis yang juga berdampak bagi ekonomi global.
Di perdagangan valuta asing, kurs dolar atas yen turun dari 91,15 yen menjadi 91,02 yen. Euro pun menguat atas dolar, yaitu dari US$1,3593 menjadi US$1,3603. (Associated Press)