VIVAnews - Indeks harga saham di sejumlah bursa utama Asia melemah dalam perdagangan di akhir pekan. Para pelaku pasar gelisah atas keputusan Bank Sentral di Amerika Serikat (The Fed), yang menaikkan suku bunga pinjaman darurat untuk perbankan.
Langkah The Fed itu tidak diduga sebelumnya. Itulah sebabnya langkah itu dipandang bisa menghambat pertumbuhan ekonomi AS, yang masih dalam pemulihan. Kekhawatiran itu membuat harga-harga saham di Asia turut rontok.
Indeks Hang Seng di Hong Kong anjlok 477,27 poin (2,3 persen) menjadi 19.944,88. Begitu pula dengan indeks Nikkei 225 di Jepang, melemah 212,11 (2,1 persen) menjadi 10.123,58.
Indeks Kospi di Korea Selatan pun turun 27,29 poin (1,7 persen) menjadi 1.593,90. Begitu pula dengan indeks Straits Times di Singapura, turun 1,2 persen kendati pemerintah setempat di saat yang sama memperkirakan peningkatan pertumbuhan ekonomi, dari antara 3 hingga 5 persen menjadi antara 4,5 persen hingga 6,5 persen.
Sementara itu bursa di Taiwan dan China masih tutup karena libur Imlek.
Menurut kalangan pengamat, para investor tak menyangka dengan keputusan The Fed, yang menaikkan tingkat suku bunga pinjaman darurat untuk perbankan di Amerika sebesar 25 basis poin menjadi 0,75 persen. Kenaikan itu mulai berlaku Jumat waktu Amerika.
Menurut The Fed, langkah itu merupakan bagian dari program penarikan bantuan darurat The Fed seperti yang telah direncanakan. Namun, bagi para investor, langkah "exit-strategy" dengan mulai memperketat sektor moneter itu bisa menghambat laju tingkat belanja konsumen ke tingkat normal.
Langkah The Fed itu akhirnya berperan dalam memperkuat nilai tukar dolar. Bagi pengamat, menguatnya dolar jadi pertanda bahwa investor mengurangi transaksi mereka dari investasi-investasi yang lebih berisiko, seperti saham dan kontrak minyak.
"Saat dolar menguat, maka berkurang pula nafsu untuk menguasai banyak aset-aset yang lebih berisiko seperti saham," kata Jit Soon Lim, pengamat dari Nomura di Singapura. "Pertumbuhan ekonomi di Asia sedang menguat, namun perdagangan aset-aset yang lebih berisiko malah melempem," lanjut Jit.
Dalam pantauan terkini, kurs dolar atas yen menguat dari 91,75 yen menjadi 91,89 yen. Dolar pun kian menekan euro, dari US$1,3529 menjadi US$1,3464.
Itulah sebabnya harga minyak di bursa New York untuk perdagangan Asia Jumat siang waktu Singapura untuk kontrak Maret turun US$1,09 menjadi US$77,97/barel. (Associated Press)