VIVAnews - Krisis utang di Yunani tak hanya menggemparkan Eropa, namun turut mengguncang pasar keuangan global. Namun, ada masalah utang yang jauh lebih serius ketimbang Yunani. Negara itu justru berstatus sebagai kekuatan ekonomi dan militer terbesar, Amerika Serikat (AS).
Bagi AS, makin besarnya nilai utang dikhawatirkan bakal mementahkan segala upaya yang dilakukan pemerintah, bahkan dalam jangka pendek. Apalagi pemerintah AS sedang berjuang membawa ekonomi sepenuhnya pulih dengan menekan tingkat pengangguran kembali ke level sebelum krisis.
Pemerintah AS sejauh ini sudah melontarkan banyak janji melalui sejumlah program "wajib". Namun bila hanya berpegang pada komitmen-komitmen itu, tanpa disertai perubahan besar dalam pajak dan anggaran belanja, akan mengarah kepada defisit yang tidak dapat dibendung.
Ambil contoh program Jaminan Sosial, Pelayanan Kesehatan, dan tunjangan-tunjangan lain. Tambahkan dalam pembayaran suku bunga utang nasional, yang kini melebihi US$12,3 triliun. Maka, semua itu akan membengkak 80 persen dari semua pendapatan federal pada tahun 2020. Demikian proyeksi sejumlah ekonom pemerintah seperti yang dihimpun kantor berita Associated Press.
Situasi itu tidak akan bisa meninggalkan celah untuk program-program lain. Apa yang tersisa adalah mata anggaran lain yang sulit diganggu-gugat, yaitu anggaran militer dan keamanan dalam negeri. Dua mata anggaran itu tidak akan dikutak-katik baik oleh Gedung Putih dan Kongres, apapun partai yang sedang berkuasa.
Krisis utang AS juga meningkatkan keraguan akan seberapa lagi negara adidaya itu bisa mempertahankan status sebagai debitur terbesar. Moody's Investor Service baru-baru ini memperingatkan bahwa peringkat utang AS bisa bertambah buruk bila keuangan Negeri Paman Sam tidak membaik.
Masalahnya, sejak Pemilu lalu ada desakan dari para pemilih bagi para anggota Kongres untuk tetap mempertahankan anggaran belanja. Rakyat juga meminta agar parlemen jangan hanya khawatir pada kian besarnya defisit.
Itulah sebabnya, baik pemerintahan Obama maupun pimpinan Demokrat di Kongres kini harus memprioritaskan upaya menurunkan tingkat pengangguran yang sedang tinggi-tingginya ketimbang mengurangi defisit.
Senat bakal menghadapi pemilihan yang penting saat kembali bersidang pada 22 Februari 2010 setelah libur President's Day. Mereka akan membahas undang-undang yang bertujuan menstimulasi pertumbuhan lapangan kerja.
Kongres sejauh ini menawarkan kredit pajak pembayaran gaji senilai US$13 miliar bagi perusahaan-perusahaan yang merekrut para pekerja yang menganggur. Selain itu juga ada tawaran tambahan kredit pajak US$1.000 bagi para pekerja yang dipertahankan setahun penuh.
Sejumlah usulan efisiensi anggaran yang diusulkan Obama, diantaranya pembekuan sejumlah mata anggaran, hanya bisa mengatasi sedikit dari segunung utang.
Anggaran yang Obama usulkan kepada Kongres bulan ini bakal mencetak rekor terbesar, yaitu sebesar US$3,8 triliun untuk tahun 2011. Target pajak dalam anggaran tahun depan juga hanya akan mendukung US$2,5 triliun anggaran belanja, sedangkan yang US$1,3 triliun lagi berupa pinjaman.
Carmen Reinhart, ekonom dari Universitas Maryland dan mantan pejabat Dana Moneter Internasional (IMF), menilai bahwa besarnya utang yang ditanggung AS saat ini mungkin tidak langsung memberi dampak bagi kebanyakan warga Amerika. Namun, mereka akan merasakannya suatu hari nanti.
"Satu yang pasti adalah kita tidak pernah tahu apakah masalah sudah ada di depan pintu rumah kita. Masalah yang dihadapi bisa berubah dan pasar dapat bereaksi sangat cepat," kata Reinhart. "Tingginya tingkat utang membuat kita menjadi rentan mengalami perubahan sentimen yang tidak bisa kita prediksi," lanjut Reinhart. (Associated Press)