Dunia

Akhir Pekan, Indeks Saham di Asia Menguat

Turunnya inflasi di China dan rencana bantuan ke Yunani bangkitkan harapan investor Asia

Jum'at, 12 Februari 2010, 15:41 WIB
Renne R.A Kawilarang, Harriska Farida Adiati
Seorang pialang memakai kostum tradisional di Bursa Saham Tokyo (AP Photo/Katsumi Kasahara)

VIVAnews - Indeks harga saham di sejumlah bursa utama Asia ditutup menguat di akhir perdagangan Jumat sore, 12 Februari 2010. Ini berkat optimisme para investor atas komitmen dari sesama negara di Eropa untuk membantu melepaskan Yunani dari krisis utang.

Sentimen para investor juga terdongkrak oleh laporan ekonomi positif dari Amerika Serikat (AS) dan China.

Namun penguatan saham tidak terlalu signifikan karena tertahan oleh pertanyaan mengenai bentuk bantuan Eropa untuk Yunani. Selain itu, masih ada kekhawatiran tentang kondisi perekonomian Jepang.

Indeks Nikkei 225 meningkat 87,28 poin (0,9 persen) menjadi 10.051,3 dan indeks gabungan Shanghai naik 24,47 poin (0,8 persen) menjadi 3.009,97. Indeks Hang Seng (Hong Kong) menguat 67,1 poin (0,3 persen) menjadi 20.357,79.

Namun indeks Kopsi (Korea Selatan) melemah 7,95 poin (0,5 persen) menjadi 1.589,89. Indeks acuan Australia stagnan, dan indeks saham di Thailand serta Malaysia menguat. Bursa India hari ini tutup karena hari libur nasional.

"Kita mengalami aksi jual terutama di Asia selama beberapa pekan, dan kita melihat sekarang ada rebound," kata Lorraine Tan, direktur penelitian ekuitas di Standard & Poor's, Singapura. "Itu adalah berita bagus, membantu memberikan kepercayaan pada pasar," lanjut Tan.

Kemarin, Eropa berkomitmen membantu Yunani mengatasi krisis utang. Meski tidak menjelaskan secara detail mengenai dana talangan, komitmen tersebut menimbulkan keyakinan bahwa ketidakstabilan itu tidak akan menyebar ke negara-negara seperti Portugal dan Spanyol.

Laporan dari China mengenai penurunan inflasi juga membangkitkan harapan bahwa Beijing tidak akan bertindak agresif untuk memperlambat ekonomi dan mengurangi permintaan terhadap sumber-sumber alam. Sementara itu, Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat mengatakan, klaim tunjangan pengangguran turun. (AP)



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ