Dunia
Perdagangan Saham

The Fed Akhiri Stimulus, Wall Street Melemah

The Fed pun akan perketat aliran kredit dengan menaikkan suku bunga untuk deposito bank

Kamis, 11 Februari 2010, 07:27 WIB
Renne R.A Kawilarang
Reaksi seorang pialang saat melihat papan indeks bursa saham Wall Street (AP Photo/Richard Drew)

VIVAnews - Indeks-indeks harga saham di bursa Wall Street sedikit melemah setelah investor mendengar pernyataan Gubernur Bank Sentral AS (The Fed), Ben Bernanke, bahwa pihaknya berencana mengakhiri program stimulus.

Di akhir transaksi Rabu sore waktu New York (Kamis dini hari WIB), indeks harga saham industri Dow Jones melemah 20,26 poin (0,2 persen) menjadi 10.038,38. Indeks Standard & Poor's 500 turun 2,39 poin (0,2 persen) menjadi 1.068,13. Begitu pula dengan indeks komposit Nasdaq, melemah 3 poin (0,1 persen) menjadi 2.147,87.

Selain akan mengakhiri program stimulus The Fed, Bernanke juga berencana untuk memperketat aliran kredit dengan menaikkan suku bunga yang The Fed bayar kepada bank-bank atas uang yang mereka depositkan di bank sentral.

Rencanan penarikan bantuan The Fed itu muncul saat para investor justru mengharapkan adanya peran besar pemerintah atas krisis utang di sejumlah negara Eropa. Mereka berharap agar para negara anggota Uni Eropa akan memberi talangan kepada Yunani, yang tengah mengalami defisit anggaran yang paling parah.

Krisis serupa pun muncul di sejumlah negara Eropa lain, yaitu Portugal, Irlandia, dan Spanyol. Itulah sebabnya para pelaku pasar saham khawatir bahwa krisis utang di sejumlah ekonomi kecil Eropa bisa menyebar dan mengancam pemulihan ekonomi global.

"Kita kini berada dalam periode transisi yang kacau," kata ekonom Nationwide Insurance, Paul Ballew, di Columbus, Ohio. "Saat kita melihat para pengambil kebijakan mulai menarik peran dari sejumlah sektor, kita justru akan terus melihat mereka ikut campur di sektor-sektor lain," lanjut Ballew.

Itulah sebabnya para pelaku bursa saham, yang sehari sebelumnya antusias dengan kabar rencana Uni Eropa untuk membantu para anggota mengatasi krisis utang, kini malah was-was dengan rencana The Fed untuk mengakhiri program bantuan bagi pemulihan ekonomi AS. Reaksi itu berperan mengangkat indeks Dow kembali ke level 10.000.

Walau sudah jauh-jauh hari diperkirakan, para investor berharap bahwa The Fed tidak segera menarik program stimulus. Pasalnya, mereka masih belum yakin dengan pemulihan ekonomi AS dan kesanggupan pemerintahan Barack Obama bila bertindak sendiri dalam menyelamatkan ekonomi Negeri Paman Sam.

Apalagi, rencana The Fed untuk menaikkan suku bunga untuk deposito bank dianggap bisa menyebabkan naiknya suku bunga untuk konsumen dan bisnis. Sebelumnya, Bernanke menegaskan belum ada niatan untuk menaikkan tingkat suku bunga dasar, yang kini mendekati nol persen.

Craig Kaufman, pengamat dari Kaufman Bros. LP di New York menilai bahwa langkah The Fed masih dianggap wajar dan tidak mewakili suatu pergeseran dalam kebijakan. "Kita kini sedang berada di dunia semua sehingga kita perlu menunjukkan bahwa kita kembali ke proses yang normal," kata Kaufman merujuk pada tingkat suku bunga dasar yang sudah begitu rendah. (Associated Press)



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ