VIVAnews - Iran kini dipandang mampu mengolah uranium menjadi bom nuklir sehingga mengkhawatirkan negara-negara Barat. Namun, dengan kualitasnya yang masih tidak bagus, pengayaan uranium Iran itu diyakini tidak sampai menimbulkan ancaman.
Demikian menurut diplomat senior Indonesia, yang kini menangani isu perlucutan senjata nuklir. Komisioner Indonesia untuk Komisi Internasional untuk Non-proleferasi Nuklir dan Perlucutan Senjata (ICNND), Wiryono Sastrohandoyo, menilai bahwa pengayaan uranium Iran saat ini tidak mengancam.
"Dengan 20 persen itu, Iran memang bisa bikin bom nuklir, tapi bom yang kualitasnya tidak bagus," kata Wiryono di sela-sela diskusi panel mengenai laporan ICNND di Jakarta, Rabu 10 Februari 2010. "Kalau kita percaya Iran, pengayaan nuklir Iran tidak bisa disebut ancaman," lanjut Wiryono.
Dia merujuk pada kabar bahwa mulai Selasa, 9 Februari 2010, Iran mulai memproduksi 20 persen uranium di pabrik Natanz. Meski Iran menyatakan pengayaan itu dilakukan untuk membuat sumber energi alternatif, negara-negara Barat mengklaim Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir.
Bahkan Amerika Serikat (AS), dengan dukungan Prancis, minta Dewan Keamanan PBB untuk menyiapkan sanksi tambahan atas Iran karena dianggap telah melanggar resolusi mengenai perlucutan senjata nuklir.
Apakah berarti reaksi AS terlalu berlebihan? "Sulit dikatakan karena ini masalah peka," jawab mantan utusan Indonesia di Badan Energi Atom Internasional (IAEA) ini. Pasalnya, lanjut Wiryono, berbagai berbagai pernyataan yang disampaikan AS kepada Iran tidak membantu terciptanya kondisi yang memungkinkan diplomasi berfungsi.
Wiryono juga membandingkan program pengayaan uranium Iran dengan Korea Utara. "Korea Utara itu dulu anggota Traktat Non-proliferasi Nuklir (NPT), tapi mengundurkan diri, dan mengakui punya bom," katanya.
"Sedangkan Iran, dia menandatangani NPT, tidak mengundurkan diri, tetapi melakukan program pengayaan uranium yang lebih tinggi, meski Iran mengklaim sebaliknya," lanjut Wiryono.