VIVAnews - Harga minyak mentah di bursa New York berhasil tembus ke level US$73/barel. Kenaikan secara signifikan ini terjadi setelah kurs dolar atas euro tengah melemah bersamaan dengan antusiasme di bursa saham atas rencana Uni Eropa menyelamatkan Yunani dan anggota-anggota lain dari krisis utang.
Menurut laman The Wall Street Journal, pada perdagangan Selasa sore waktu New York (Rabu dini hari WIB), harga minyak light sweet untuk kontrak Maret naik US$1.86 (2,6 persen) menjadi US$73,75/barel. Di bursa London, harga minyak Brent naik 2,9 persen menjadi US$72,13/barel.
Para pelaku pasar antusias dengan sejumlah laporan akan adanya bantuan ke Yunani, yang tengah dilanda masalah utang yang parah. Laman harian The Financial Times Deutschland, Rabu 10 Februari 2010, mengungkapkan rencana Jerman untuk membantu Yunani. Laporan itu mengutip seorang anggota parlemen senior Jerman.
Laporan lain menyebutkan bahwa Presiden Bank Sentral Eropa, Jean-Claude Trichet, mempersingkat kunjungan di Australia untuk berkonsentrasi pada pertemuan Dewan Uni Eropa Kamis esok. Pertemuan itu rencananya akan menempatkan krisis di Yunani sebagai agenda utama. Selain Yunani, Spanyol dan Portugal pun mengalami masalah serupa.
Para pelaku pasar minyak mentah turut menaruh perhatian atas perkembangan di Eropa. Mereka merasa bahwa krisis utang di ekonomi kecil seperti Yunani berpotensi mewabah ke negara-negara yang lebih maju bila tidak segera ditanggulangi.
Apalagi, Yunani merupakan anggota pemakai euro, mata uang utama di Uni Eropa. Maka krisis utang di Yunani dan negara-negara Eropa bisa meruntuhkan kepercayaan atas mata uang euro, yang kini makin berpengaruh bagi sistem keuangan dan perdagangan global.
Namun, kekhawatiran investor minyak atas anjloknya euro untuk sementara bisa dikesampingkan. Pasalnya, pada perdagangan valuta asing di New York Selasa siang pukul 15.16 waktu setempat, kurs dolar atas euro turun 1 persen, yaitu dari US$1,3649 menjadi US$1,3786.