VIVAnews - Harga minyak mentah di bursa New York semakin mendekat ke level US$72/barel. Para investor melihat harga minyak sudah sedemikian rendah dalam beberapa pekan terakhir sehingga mereka melakukan aksi borong, namun kenaikan harga tersendat oleh kekhawatiran investor atas krisis utang di Eropa.
Menurut laman harian The Wall Street Journal, berdasarkan transaksi Senin sore waktu New York (Selasa dini hari WIB), harga minyak light sweet untuk kontrak Maret naik 70 sen (1 persen) menjadi US$71,89/barel. Pekan lalu harga minyak turun selama tiga hari berturut-turut dan besaran penurunan mencapai hampir 8 persen.
Di bursa London, harga minyak Brent naik 52 sen (0,8 persen) menjadi US$70,11/barel.
Setelah akhir pekan anjlok hingga mendekati US$70/barel, para investor di awal pekan ini menemukan momentum untuk memborong kontrak minyak mentah. Selain itu, para konsumen bahan bakar minyak di Amerika Serikat (AS) awal pekan ini banyak membeli BBM yang sudah rendah karena mengikuti harga pasar.
Namun, harga minyak diperkirakan rentan untuk kembali turun. Pasalnya, para investor minyak turut prihatin atas krisis utang di sejumlah negara Eropa, yaitu Yunani, Spanyol, dan Portugal. Kesulitan negara-negara dalam mengatasi besarnya defisit anggaran membuat banyak investor masih mengalihkan investasi mereka dari komoditas dan saham ke perdagangan dolar, yang dipandang lebih aman.
Itulah sebabnya kurs dolar mencapai rekor tertinggi dalam delapan bulan terakhir atas euro. Pada perdagangan Senin, kurs dolar atas euro menguat dari US$1,3585 pada Jumat pekan lalu menjadi US$1,3682.
Menurut Phil Flynn, pengamat dari PFGBest di Chicago, naiknya dolar membuat kontrak minyak mentah menjadi semakin mahal bagi investor pemegang mata uang non-dolar.