VIVAnews - Untuk kali pertama dalam tiga bulan terakhir, indeks harga saham industri di bursa Wall Street, Dow Jones, berada pada level di bawah 10.000 poin. Penurunan terjadi karena kian khawatirnya para pelaku pasar atas krisis utang di sejumlah negara Eropa.
Dia akhir transaksi Senin sore waktu New York (Selasa dini hari WIB), indeks Dow turun 103,84 poin (1 persen) menjadi 9.908,39. Ini kali pertama Dow berada di bawah level 10.000 sejak 4 November 2009.
Indeks Standard & Poor's 500 juga turun, yaitu sebesar 9,45 poin (0,9 persen) menjadi 1.056,74. Begitu pula dengan indeks komposit Nasdaq, melemah 15,07 poin (0,7 persen) menjadi 2.126,05.
Bertambahnya utang di beberapa negara Eropa, yaitu Yunani, Portugal, dan Spanyol, telah membangkitkan keraguan para investor atas pemulihan sistem keuangan global.
Sebelumnya, kebijakan China untuk menahan laju pertumbuhan ekonomi dan rencana AS untuk memperketat aturan perbankan telah membuat cemas investor sehingga indeks harga saham di Wall Street terus turun dari rekor tertinggi dalam setahun, yang diukir pada transaksi Januari lalu.
Sejumlah pemerintah Eropa mulai menerapkan langkah untuk mengatasi krisis utang. Yunani, misalnya, Senin lalu berencana untuk menaikkan sejumlah pajak untuk menambah pendapatan. Namun, rencana itu ditentang oleh para pegawai negeri Yunani. Bahkan, mereka akan menggelar aksi demonstrasi dan mogok kerja Rabu esok.
Brett Hryb, manajer portofolio dari MFC Global Investment Management di Toronto, menilai bahwa para investor khawatir bahwa krisis keuangan yang terjadi di negara seperti Yunani - walau ekonominya lebih kecil ketimbang negara-negara lain di Eropa - bisa menyebar ke negara-negara lain.
"Yunani jelas tidak ada apa-apanya. Namun yang dikhawatirkan justru penularan krisis," kata Hryb.
"Kini, bila publik melontarkan kata 'tertular,' saya pun mulai gemetar," kata Jerry Webman, ekonom dari OppenheimerFunds Inc. Dia menilai bahwa krisis di negara seperti Yunani tidak boleh dipandang enteng. (AP)