VIVAnews - Setelah anjlok pada akhir pekan lalu, harga minyak mentah di bursa New York sedikit menguat hingga mendekati US$72 per barel. Kenaikan harga ini dipicu oleh ketegangan terkait program nuklir Iran dan cuaca dingin di wilayah timur laut Amerika Serikat.
Berdasarkan transaksi elektronik untuk perdagangan Asia, Senin siang waktu Singapura, harga minyak light sweet untuk pengiriman Maret naik 56 sen menjadi US$71,75 per barel. Jumat pekan lalu, harga minyak anjlok US$1,95 menjadi US$71,19 per barel - level terendah dalam dua bulan terakhir.
Sementara itu, harga minyak Brent naik 63 sen menjadi US$70,22 per barel di bursa London.
Pekan lalu, merosotnya harga minyak antara lain disebabkan kekhawatiran akan krisis utang di sejumlah negara Eropa, seperti Yunani, Portugal, dan Spanyol. Masih tingginya tingkat pengangguran di AS berdasarkan data pekan lalu turut menimbulkan keraguan investor atas pemulihan ekonomi AS.
Hari ini, penguatan harga minyak terjadi karena prediksi bahwa akan terjadi peningkatan permintaan produk minyak olahan seperti minyak pemanas di tengah cuaca dingin di AS dan ketegangan di Timur Tengah.
Minggu kemarin, presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, memerintahkan badan atom di negaranya untuk melakukan pengayaan uranium secara signifikan. Iran tetap menentang negara-negara Barat, yang ingin program nuklir itu dihentikan.
"Ini adalah kabar gembira terakhir di musim dingin kali ini, ditambah dengan pengumuman Iran yang memberi alasan bagi investor untuk membeli minyak," kata Victor Shum, analis energi Purvin & Gertz di Singapura. (AP)