Dunia

Ikuti Wall Street, Harga Saham di Asia Anjlok

Para investor mulai khawatir bakal munculnta resesi baru di Eropa dan AS

Jum'at, 5 Februari 2010, 14:02 WIB
Renne R.A Kawilarang
Reaksi para pialang Bursa Saham Tokyo melihat turunnya indeks (AP Photo/Koji Sasahara)

VIVAnews - Indeks harga saham di bursa-bursa utama Asia mengkuti jejak Wall Street, turun cukup drastis setelah mendengar kabar membengkaknya utang di beberapa negara Eropa dan naiknya jumlah pemohon baru tunjangan pengangguran di Amerika Serikat (AS).

Pada penutupan transaksi Jumat sore waktu setempat, indeks Nikkei 225 di Jepang turun 269,18 poin (2,6 persen) menjadi 10.086,80. Indeks di bursa China turun 1,8 persen atau 53,42 poin menjadi 2.941,89. Begitu pula dengan indeks Hang Seng, turun 2,9 persen menjadi 19.753,29.

Di tempat lain, indeks Kospi di bursa Korea Selatan melemah 3,1 persen menjadi 1.565,99. Begitu pula dengan indeks di bursa Taiwan dan Australia, masing-masing turun 4 persen dan 2,5 persen.

Mengikuti para pelaku bursa Wall Street, para investor di Asia ramai-ramai memindahkan investasi mereka dari aset-aset yang lebih berisiko, seperti saham dan pasar komoditas, di tengah kabar bahwa utang Yunani, Spanyol, dan Portugal bertambah besar. Mereka pun meragukan kemampuan para pemerintah di tiga negara itu untuk melakukan pinjaman lagi.

"Kami berada pada situasi dimana stimulus diperlukan untuk mempertahankan pertumbuhan. Namun ada pemerintah yang tidak mampu untuk mendanainya," kata Dariusz Kowalczyk, pengamat dari SJS Markets di Hong Kong.

"Bila situasi itu terjadi, tidak akan ada cara untuk mencegah ekonomi global dari resesi baru," kata Kowalczyk. "Risiko itu telah menyebabkan stres yang besar di pasar," lanjut dia.

Para investor Asia pun terpukul oleh data meningkatnya jumlah pemohon baru tunjangan pengangguran di AS. Padahal naik-turunnya tunjangan pengangguran merupakan barometer penting dalam mendeteksi tingkat pengangguran - yang merupakan penentu bagi cepat lambatnya pemulihan ekonomi di AS. 

Kowalczyk menilai bahwa AS dan Eropa masih punya pengaruh besar di Asia. Bila kedua kawasan itu kembali berisiko mengalami resesi, Asia pun terkena dampaknya. (AP)

• VIVAnews
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ