Dunia

Harga Minyak Mentah Anjlok 5 Persen

Para investor mengalihkan investasi mereka ke aset yang lebih aman, yaitu dolar

Jum'at, 5 Februari 2010, 07:37 WIB
Renne R.A Kawilarang
  (AP Photo/Jin Lee)

VIVAnews - Harga minyak mentah di bursa New York anjlok sebesar 5 persen sehingga terpuruk ke level US$73/barel. Penurunan ini terjadi setelah laporan naiknya jumlah pemohon baru tunjangan pengangguran di AS dan krisis utang di sejumlah negara Eropa.

Menurut laman harian The Wall Street Journal, pada transaksi Kamis sore waktu New York (Jumat dini hari WIB), harga minyak light sweet untuk kontrak Maret turun US$3,84 menjadi US$73,14/barel. Ini merupakan harga terendah sejak 29 Januari lalu sekaligus penurunan terbesar dalam transaksi satu hari sejak 29 Juli 2009.

Di bursa London, harga minyak Brent juga anjlok 5 persen, US$3,79, menjadi US$72,13/barel.

Kabar yang menggelisahkan dari Eropa dan AS itu membuat para investor perdagangan minyak mengalihkan investasi mereka ke aset yang lebih aman, yaitu dolar. Padahal, investor sudah terpukul oleh pengumuman naiknya persediaan minyak mentah di AS.

Para investor langsung mengalihkan investasi mereka dari bursa saham dan pasar komoditas begitu mendapat kabar bahwa sejumlah negara Eropa mengalami utang yang besar. Mereka adalah Yunani, Portugal, dan Spanyol.

Muncul kekhawatiran bahwa pemerintah negara-negara itu akan mengalami kesulitan dalam membendung naiknya utang dan bahkan terpaksa meminjam lagi untuk tetap menjalankan roda perekonomian. Imbas langsung dari kabar itu adalah anjloknya kurs euro atas dolar hingga mencapai level terendah dalam tujuh bulan terakhir.

Para investor pun khawatir bahwa masalah utang di negara-negara Eropa akan berdampak pula ke AS sehingga mempersulit pemerintah di Washington untuk mengatasi masalah terbesar saat ini, yaitu pengangguran.

Menurut kantor berita Associated Press, muncul laporan dari Departemen Tenaga Kerja AS Kamis lalu bahwa jumlah pemohon baru tunjangan pengangguran pekan lalu naik 8.000 orang menjadi 480.000 orang. Padahal para investor tadinya mengharapkan adanya penurunan.

Maka, muncul perkiraan bahwa saat melaporkan tingkat pengangguran selama Januari lalu pada Jumat waktu setempat, pemerintah AS akan mengungkapkan kenaikan, dari 10 persen menjadi 10,1 persen

"Kabar naiknya jumlah pemohon tunjangan pengangguran di AS itu membuat resah pasar menjelang pengumuman data pengangguran Jumat nanti," kata Brad Samples, pengamat dari Summit Energy.

• VIVAnews
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ