Dunia
Perdagangan Saham

Ikuti Wall Street, Bursa Asia Melemah

Di Jepang, para investor masih resah oleh masalah yang dihadapi Toyota

Kamis, 4 Februari 2010, 14:40 WIB
Renne R.A Kawilarang
  (AP Photo/Jin Lee)

VIVAnews - Indeks saham bursa-bursa utama di Asia pada perdagangan Kamis sore ditutup melemah, mengikuti penurunan yang terjadi di Wall Street dini hari tadi. Penurunan terjadi jelang diumumkannya data terbaru sektor tenaga kerja di Amerika Serikat (AS) dan kebijakan baru bank-bank sentral di Eropa.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 48,35 poin (0,5 persen) menjadi 10.355,98. Seperti di Wall Street, harga saham Toyota di bursa Tokyo ikut turun menyusul saran dari menteri transportasi AS kepada pemilik mobil Toyota yang masuk daftar recall (ditarik dari pasaran) untuk berhati-hati dan memeriksakan kendaraan mereka ke diler setempat.

Tak hanya di AS, Toyota pun menarik produk-produknya dari beberapa negara setelah diketahui ada masalah dalam sistem pedal gas pada mobil yang dibuat oleh produsen otomotif terbesar di dunia itu. 

Di Hong Kong, indeks Hang Seng turun 1,5 persen menjadi 20.415,41. Begitu pula dengan indeks di bursa China, turun 0,3 persen. Penurunan indeks juga terjadi pada bursa saham di India dan Australia. Sebaliknya, di bursa Korea Selatan, setelah terus menurun selama hampir sepanjang hari, indeks saham Kospi ditutup menguat 0,1 persen.

Menurut pengamat, para investor Asia tampaknya turut kecewa dengan data terbaru mengenai kinerja industri jasa di AS.

Institut Manajemen Suplai mengungkapkan bahwa indeks industri jasa Januari lalu hanya sedikit meningkat, yaitu dari 49,8 poin Desember lalu menjadi 50,5 poin. Level itu lebih rendah dari harapan para ekonom yang disurvei Thomson Reuters, yang tadinya memperkirakan naik menjadi 51 poin.

Sebenarnya, level Januari sudah melewati batas standar, yaitu 50 poin. Namun angka 50,5 poin tampak belum memuaskan para investor di bursa saham. Laporan mengecewakan dari bisnis jasa, yang termasuk komponen utama ekonomi AS, membuat investor merasa bahwa pemulihan masih berjalan lambat.
 
Sementara itu, para investor kini menunggu keputusan dari Bank Sentral Eropa dan Bank Sentral Inggris apakah akan mengubah tingkat suku bunga dan proyeksi ekonomi ke depan. (AP)



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ