VIVAnews - Amerika Serikat (AS) masih rentan menjadi target serangan teroris dalam beberapa bulan mendatang. Serangan itu bisa berupa sabotase jaringan internet dan kelompok teroris al-Qaeda tetap menjadi ancaman utama bagi AS.
Demikian ungkap Direktur Badan Intelijen Nasional, Dennis Blair, yang mengkoordinir lembaga-lembaga intelijen AS. "Perhatian paling utama yang membuat saya selalu terjaga dari tidur di malam hari yaitu al-Qaeda dan para sekutu terornya sangat gencar menyerang Amerika Serikat," kata Blair seperti dikutip stasiun televisi CNN dalam rapat dengan para anggota Senat AS, Selasa 2 Februari 2010, waktu Washington DC.
Saat itu, Ketua Komisi Intelijen Senat, Dianne Feinstein, bertanya apakah masih ada kemungkinan upaya serangan teror atas AS dalam jangka waktu tiga hingga enam bulan mendatang, Blair menjawab, "Pasti."
Sementara itu, Direktur Badan Intelijen CIA, Leon Panetta, menilai bahwa al-Qaeda tengah menerapkan metode yang membuat rencana serangan mereka jadi lebih sulit untuk dideteksi. Mereka kini beralih strategi, dulu melancarkan serangan besar dengan beberapa pelaku kini mereka mengerahkan individu-individu yang tidak memiliki latar belakang terorisme.
Menurut Panetta, contohnya adalah upaya pengeboman pesawat Northwest Airlines di Bandara Detroit 25 Desember 2009. Pelakunya, seorang pemuda asal Nigeria, dikenal tidak memiliki latar belakang dengan kelompok teroris, namun dia belakangan menjadi simpatisan al-Qaeda di Yaman.
"Jelasnya, mereka memutuskan untuk memanfaatkan seseorang seperti itu untuk saat-saat ini," kata Panetta.
Dalam rapat itu, para pejabat top intelijen dan Komisi Intelijen Senat juga membahas wacana apakah para tersangka teroris, yang kini ditahan di Penjara Guantanamo, harus diadili melalui pengadilan militer atau pengadilan sipil.
Mengenai serangan internet, Blair menjabarkan bahwa aparat intelijen menemui tantangan sangat berat dalam menangkal serangan atas jaringan komputer dan sistem telekomunikasi dari para peretas (hacker).
"Informasi yang sensitif setiap hari dicuri dari jaringan komputer pemerintah dan swasta sehingga meruntuhkan kepercayaan sistem informasi kita," kata Blair dalam penjelasan tertulis kepada Senat.
Senat, melalui Feinstein, sepakat dengan penilaian Blair bahwa AS tidak siap dalam menangkal serangan-serangan di dunia maya. "Maka, sangat jelas bahwa kita perlu membangun startegi keamanan cyber secara menyeluruh," kata Feinstein.