VIVAnews - Para pelaku pasar minyak mentah di New York turut antusias melihat data positif pasar perumahan Amerika Serikat (AS). Naiknya penjualan rumah diyakini menjadi salah satu tanda yang bagus bagi pemulihan ekonomi AS. Imbasnya harga minyak pun naik secara signifikan hingga ke level US$77/barel.
Menurut laman harian The Wall Street Journal, harga minyak light sweet untuk kontrak Maret pada perdagangan Selasa sore waktu New York (Rabu dini hari WIB) naik US$2,80 (3,8 persen) menjadi US$77,23/barel. Di bursa London, harga minyak Brent juga naik, yaitu sebesar 4,1 persen (US$2,96) menjadi US$76,07/barel.
Menurut data dari Asosiasi Makelar Properti AS, indeks kontrak penjualan rumah Desember lalu naik 1 persen. Ini merupakan kenaikan kesembilan dalam sepuluh bulan terakhir menyusul antusiasme para pembeli untuk memanfaatkan insentif pajak pembelian rumah baru, yang berlaku hingga November tahun lalu. Kenaikan itu juga melampaui perkiraan para ekonom, yang tadinya melihat pembelian rumah tidak akan mengalami pertumbuhan.
Data itu memperkuat tanda-tanda pemulihan ekonomi AS. Maka, investor memperkirakan bahwa tingkat permintaan minyak juga akan ikut pulih.
"Data ekonomi yang memuaskan dalam tiga hari perdagangan terakhir - dimulai dari naiknya produk domestik bruto AS di triwulan keempat 2009 [Jumat], menguatnya kinerja manufaktur [Senin] dan naiknya penjualan rumah [Selasa] - turut membangkitkan minat investor dalam perdagangan komoditas industri, seperti bahan bakar minyak," kata Andy Lebow, pengamat dari MF Global di New York.
Dia menilai bahwa pasar minyak saat ini tengah melakukan koreksi atas penurunan yang diderita dalam beberapa pekan terakhir. Sejak mencetak rekor US$83,95/barel - tertinggi dalam 15 bulan terakhir - pada perdagangan 11 Januari lalu, harga minyak mentah terus merosot hingga sebesar lebih dari US$10.
"Yang membuat harga di pasar minyak dan pasar lain menjadi turun adalah kekhawatiran mengenai situasi ekonomi secara keseluruhan. Namun, kita telah melihat sejumlah data yang bagus dalam beberapa hari terakhir, terutama data manufaktur," kata John Kilduff, pengamat dari Round Earth Capital di New York.