Dunia

Australia Tawarkan Cara Pembangunan Bersih

Dunia baru mengetahui Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang yang bisa menerapkan MPB.

Selasa, 2 Februari 2010, 20:15 WIB
Elin Yunita Kristanti, Harriska Farida Adiati
Demonstrasi para aktivis menyambut KTT Perubahan Iklim di Copenhagen, Denmark (AP Photo)

VIVAnews - Australia menawarkan kerja sama Mekanisme Pembangunan Bersih (MPB) pada perusahaan-perusahaan industri di kawasan ASEAN.

MPB merupakan salah satu mekanisme yang terdapat di dalam Protokol Kyoto yang merupakan satu-satunya mekanisme yang melibatkan negara berkembang, di mana negara maju bisa menurunkan emisi rumah kaca di negaranya dengan mengembangkan proyek ramah lingkungan di negara berkembang.
 
Komisaris Perdagangan Australia untuk Energi Bersih dan Lingkungan Hidup di ASEAN, Garth Taylor, Selasa 2 Februari 2010 di Jakarta mengatakan, bagi Australia, ini adalah kesempatan mempromosikan kemampuan Australia dalam proyek karbon dan untuk membantu pengembangan proyek berkarbon rendah di negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia.

Selama ini masyarakat dunia baru mengetahui Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang sebagai negara yang bisa menerapkan MPB.
 
Misi MPB tersebut akan dilaksanakan oleh "The Australian Carbon Cluster" yang terdiri atas 19 perusahaan di Australia yang telah berkomitmen dalam Carbon Cluster. Misi pertama Carbon Cluster adalah berkunjung ke Kuala Lumpur pada 1 dan 2 Maret untuk memperkenalkan Australian Carbon Cluster pada kalangan pengusaha ASEAN.

"Mereka akan melakukan kunjungan ke ASEAN pada 1 dan 2 Maret, dan ke India pada  3 sampai 5 Maret," kata Taylor.

Carbon Cluster terdiri atas perusahaan-perusahaan perdagangan karbon, manajemen persediaan karbon, perusahaan teknik, pengembangan pasar, konsultan karbon, pembeli karbon, perancang proyek, dan manajemen energi. "Bagi Indonesia, Carbon Cluster merupakan one-stop shop untuk perusahaan-perusahaan Indonesia dalam menerapkan MPB," kata Taylor.

Ini karena Carbon Cluster menyediakan teknologi, pakar dan tenaga ahli, kredit karbon, dan konsultasi untuk keperluan MPB.
 
Taylor mengatakan, Carbon Cluster menargetkan sepuluh proyek MPB dapat terlaksana dalam kurun 18 bulan di kawasan ASEAN.

"Dengan proyek Carbon Cluster ini, maka perusahaan industri di negara berkembang di ASEAN, seperti Indonesia, akan lebih mudah, lebih murah, lebih hemat waktu, dan dengan risiko lebih kecil, bisa menerapkan MPB tersebut," tambah Taylor.






• VIVAnews
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ