VIVAnews - Harga minyak mentah di bursa New York mampu melonjak lebih dari 2 persen. Kenaikan signifikan itu berkat sejumlah laporan positif mengenai ekonomi AS dan laporan pendapatan sejumlah korporat di triwulan terakhir 2009 sehingga mampu mengangkat indeks di bursa ekuitas sekaligus mendorong kepercayaan investor di pasar minyak.
Menurut laman harian The Wall Street Journal, pada transaksi Senin sore waktu New York (Selasa dini hari WIB), harga minyak light sweet untuk kontrak Maret naik US$1,54 (2,1 persen) menjadi US$74,43/barel. Di London, harga minyak Brent naik US$1,65 (2,3 persen) menjadi US$73,11/barel.
Data terbaru ekonomi AS mampu membangkitkan optimisme para investor akan pemulihan ekonomi di Negeri Paman Sam. Jumat pekan lalu pemerintah menyatakan bahwa tingkat ekonomi selama triwulan keempat 2009 mengalami pertumbuhan yang paling pesat dalam enam tahun terakhir, yaitu sebesar 5,7 persen.
Kabar menggembirakan juga datang dari hasil survei Institute for Supply Management, yang mengungkapkan bahwa indeks sektor manufaktur di AS Januari lalu mencetak kenaikan terbesar sejak Agustus 2004, yaitu dari 54,9 Desember lalu menjadi 58,4 poin. Ini menandakan bahwa pabrik-pabrik Amerika telah menaikkan produksi.
Level indeks manufaktur Januari telah melampaui jumlah yang diperkirakan para pengamat yang disurvei Thomson Reuters, yaitu sebesar 55,5 poin. Bila indeks lebih dari 50 poin, artinya performa pabrik-pabrik di AS sudah berjalan baik.
Survei dari Eropa dan China Senin lalu juga menunjukkan bahwa kinerja manufaktur dari kawasan-kawasan itu turut membaik. Itulah yang membuat harga saham perusahaan industri menguat.
Departemen Perdagangan AS mengungkapkan bahwa tingkat belanja konsumen Desember lalu naik 0,2 persen. Ini merupakan kenaikan dalam tiga bulan berturut-turut. Pemerintah juga mengungkapkan bahwa tingkat pendapatan personal di AS Desember lalu naik melebihi proyeksi.
Sementara itu, harga minyak juga terangkat oleh kabar gangguan pasokan di Nigeria. Pekan lalu, kelompok pemberontak MEND di Delta Niger, yang merupakan kawasan strategis kilang minyak di Afrika, mengakhiri gencatan senjata dengan pemerintah Nigeria yang disepakati tahun lalu.
Akibatnya, Royal Dutch Shell mengungkapkan bahwa akhir pekan lalu kembali muncul sabotase jaringan pipa minyak sehingga menutup tiga status di Delta Niger. Tak diungkapkan seberapa besar produksi minyak di sana terganggu oleh sabotase pemberontak.