VIVAnews - Tiga warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi pekerja di suatu hotel dinyatakan selamat dari gempa bumi yang mengguncang Haiti. Tadinya, tiga WNI asal Bali itu sempat tidak diketahui keberadaan mereka pasca gempa berkekuatan 7 pada Skala Richter di negara miskin di Karibia Selasa lalu.
Demikian ungkap juru bicara Kementrian Luar Negeri (Kemlu), Teuku Faizasyah. "Satu jam yang lalu, Kemlu menerima informasi dari Kantor Perutusan Tetap RI di New York bahwa tiga WNI ditemukan selamat di Haiti," kata Faizasyah dalam jumpa pers di Pejambon, Jakarta, Jumat 15 Januari 2010.
Mereka adalah Ni Luh Made Juini dengan nomor paspor A199712, Ni Ketut Yasri Astiti (P754832), dan I Gusti Putu Sukerti (N655160). Ketiga WNI itu, menurut Faizasyah, bekerja di Hotel Caribe.
"Hotel tempat mereka bekerja tidak rusak berat. Mereka kini berada di tempat perlindungan di sekitar hotel," kata Faizasyah.
Berdasarkan dari nama-nama mereka, ketiga WNI itu kemungkinan berasal dari Bali atau tinggal di Bali. "Informasi awal yang kami dapat hanya nama dan nomor paspor, kami minta bantuan media untuk menelusuri keberadaan keluarga mereka. Karena info baru kami dapat satu jam yang lalu, kami belum memberitahu pemerintah Bali untuk menelusuri keberadaan keluarga," kata Faizasyah.
Informasi keberadaan tiga orang WNI tersebut diperoleh dari dua WNI yang juga berada di Haiti. Mereka bernama Endang Satriyani dan Yogi Agoro.
Kedua WNI yang juga selamat dari gempa itu adalah relawan Misi Perdamaian PBB untuk Stabilisasi Haiti. "Kami memang meminta mereka untuk membantu mencari tiga WNI, dan kami berterima kasih pada mereka," kata Faizasyah.
Pasalnya, kantor yang mewakili kepentingan Indonesia di Haiti selama ini dirangkap oleh Kantor Perutusan Tetap Republik Indonesia (PTRI) untuk PBB di New York, AS. Itulah sebabnya diplomat Indonesia di New York tidak bisa langsung dikerahkan ke Haiti untuk memantau situasi dan memberi bantuan akibat jauhnya jarak dan sulitnya transportasi menuju ke sana.
Evakuasi WNI dari Haiti akan dilakukan kalau sudah memungkinkan, setelah pesawat reguler bisa beroperasi. Berdasarkan informasi dari PTRI di New York, kondisi infrastruktur di Haiti sangat rusak sehingga saat ini pemerintahan di sana belum berjalan efektif.
"Kami harap tidak ada WNI lain yang ada di sana [selain kelima warga itu]," kata Faizasyah.