VIVAnews - Di Malaysia, penggunaan kata "Allah" hanya khusus diperuntukkan bagi umat Muslim. Maka, tidak bisa membandingkan pemakaian kata Allah di Malaysia dengan yang di Indonesia, yang digunakan secara umum.
Demikian penegasan seorang pejabat tinggi Malaysia, Senin 11 Januari 2010. Laman harian The New Straits Times mengungkapkan bahwa Sekretaris Jenderal Kementrian Dalam Negeri Malaysia, Datuk Seri Mahmood Adam, memberi pengarahan kepada 96 perwakilan diplomatik negara-negara asing mengenai situasi di negaranya, yang saat ini heboh oleh kontroversi penggunaan kata Allah dan pembakaran sejumlah gereja.
"Situasi kini di bawah kendali," kata Adam.
Kepada para diplomat asing, dia menjelaskan sikap pemerintah yang sampai kini melarang umat non-Muslim menggunakan kata Allah sebagai pengganti kata Tuhan.
Itulah sebabnya pemerintah awal bulan ini mengajukan banding atas putusan Pengadilan Tinggi 31 Desember 2009, yang membolehkan non-Muslim menuliskan kata Allah dalam penerbitan mereka sekaligus mengabulkan gugatan pengelola surat kabar Katolik, Herald, akhir 2007 lalu.
Adam pun membuat perumpamaan bahwa membandingkan penggunaan kata "Allah" di Malaysia dengan di negara lain sama seperti membandingkan apel dengan jeruk. "Mereka [para diplomat] menginginkan pemahaman yang lebih baik bagaimana kata 'Allah' diterapkan di Malaysia dibandingkan dengan, katakanlah, Indonesia," kata Adam seperti dikutip New Straits Times.
"Kami menjelaskan mengapa di beberapa negara kata itu digunakan secara umum sedangkan di tempat lain seperti di Malaysia, kata itu khusus untuk Islam," lanjut Adam.
"Kita harus adil...[Kita harus] membandingkan apel dengan apel dan jeruk dengan jeruk," tambah Adam dalam jumpa pers usai bertemu dengan para diplomat asing. Namun, Adam tidak menjabarkan lebih lanjut mengenai perumpamaan yang dia lontarkan.
Dalam pertemuan yang juga dihadiri oleh Wakil Kepala Kepolisian Malaysia, Tan Sri Ismail Omar, Adam juga menjelaskan bahwa penggunaan kata Allah secara verbal oleh umat non-Muslim sebenarnya tidak menjadi persoalan besar. Namun, yang menjadi masalah ketika kata itu dicantumkan dalam penerbitan.
Sementara itu, kalangan diplomat asing diberitakan puas atas penjelasan yang diberikan pejabat Malaysia.
Wajar kalo mayoritas klaim meskipun lebih muda. Toh di negara2 yg merasa "lebih dulu" juga g pernah pake kata itu..:P
Saya jadi berpikir: kayaknya sudah mulai cari masalah seperti di Indonesia tuh..ckckck...
nah, kelihatan kan bobroknya malaysia. sudah doyan maling, sumbernya teroris, dan lagi negara paling pandai memanipulasi. seram ya tinggal di malaysia. kasihan orang-orang kristen di sana, harus hidup dengan para teroris.
gini hari masih ad orang yang memandang bahwa allah itu banyak, intelektualitasnya mana????? dimana-mana Allah tu satu, baik Allah muslim, katolik, protestan, malaysia, indonesia, filipina, dan agama dan negara lainnya, Allahnya tu satu. Allah muslim ya A
gini hari masih ad orang yang memandang bahwa allah itu banyak, intelektualitasnya mana????? dimana-mana Allah tu satu, baik Allah muslim, katolik, protestan, malaysia, indonesia, filipina, dan agama dan negara lainnya, Allahnya tu satu. Allah muslim ya A
setiap kata dan menurut tata aturan bahasa ada cara membaca dan melafalkannya, kata " JERRUK" bagaimana cara menyebutnya, tentu sesuai dengan tulisannya.(dibaca tasydid) karena sumbernya adalah bahasa arab, lalu
kalau ada suatu kelompok yang membaca "JER
bedanya dimana? yang apel yang mana? yang jeruk yang mana?
kalo mau membahas tentang penggunaan dan arti yang sebenar2nya lihatlah dari asal muasal bahasanya.
allah ya allah aja, gak pernah ada allah orang indonesia, allah orang malaysia apalagi allah j
Alahhhhhhhhh.........Gitu aja kok repot!
Kata Allah sudah digunakan jauh sebelum Islam ada....lagian sampai persoalan semantik aja bisa2nya bakar gereja....saya gak yakin itu ajaran Islam yang benar....pemerintah Malaysia aja yang rasis dan cekak pengetah