VIVAnews - Malaysia mengecam keras serangkaian serangan terhadap sembilan gereja yang terjadi sejak Jumat pekan lalu. Pemerintah Malaysia juga berusaha meyakinkan negara lain bahwa negeri jiran tersebut teguh pada komitmen mereka untuk memelihara kebebasan beragama bagi kelompok minoritas, Senin, 11 Januari 2010.
Hari ini, Kementerian Dalam Negeri Malaysia menggelar pertemuan dengan sekitar 70 diplomat asing untuk memastikan bahwa situasi di Malaysia masih tertangani. Dalam pertemuan yang berlangsung selama satu jam tersebut, Kementerian Dalam Negeri berjanji untuk melindungi "kesucian" keberagaman agama di Malaysia.
Kepolisian juga akan meningkatkan patroli di gereja dan masjid di Malaysia.
Kementerian mengatakan, serangan itu dilakukan oleh ekstrimis yang ingin mengendorkan komitmen negara terhadap keharmonisan rasial, salah satu kunci untuk menarik investor asing. "Serangan-serangan itu bukan hanya serangan terhadap tempat ibadah, tetapi serangan terhadap nilai dan kebebasan rakyat Malaysia," tulis pernyataan Kementerian Dalam Negeri.
Sekitar 9 persen dari 28 juta jiwa penduduk Malaysia adalah umat Kristiani yang sebagian besar merupakan etnis China atau India. Umat Muslim mencakup 60 persen dari total populasi, dan sebagian besar adalah etnis Melayu.
Serangan itu juga merupakan pukulan keras bagi semboyan persatuan "1Malaysia" yang diserukan Perdana Menteri Najib Razak sejak sah memimpin Malaysia pada April 2009. "Ini menunjukkan bahwa setelah 52 tahun hidup bersama, pembangunan nasional dan persatuan kini tercabik-cabik," kata Charles Santiago, anggota oposisi Parlemen.
"Serangan terhadap gereja mengkoyak anggapan bahwa Malaysia adalah model negara muslim sekular di mata komunitas internasional," dia menambahkan.
Serangan terbaru terjadi pada Senin pagi tadi menimpa Sidang Injil Borneo di Negeri Sembilan. Pendeta Eddy Marson Yasir mengatakan, sebagian pintu masuk gereja terbakar.
(AP)