VIVAnews - Palestina menginginkan tekanan kuat dari komunitas internasional kepada Israel untuk menghentikan pendudukan Israel. Demikian dikatakan duta besar Palestina untuk Indonesia, Fariz Nafi' Atieh Mehdawi, di sela-sela peringatan Hari Palestina di lembaga bahasa LIA Jakarta, Jumat 8 Januari 2010.
"Kami perlu tekanan yang sangat kuat dan berarti kepada Israel dari komunitas internasional karena isu kami adalah konflik internasional," kata Mehdawi.
Komunitas internasional, lanjut Mehdawi, sudah menyatakan dengan jelas bahwa mereka mendorong tercapainya negara Palestina. "Namun, kita tidak bisa mendeklarasikan negara Palestina tanpa memiliki perangkat dalam kebijakan itu. Ini memerlukan tekanan, upaya bersama," kata Mehdawi.
Indonesia, lanjut Mehdawi, dalam kapasitas internasional dan nasional dan sebagai negara muslim terbesar di dunia, posisi Indonesia sangat berpengaruh.
Selain membutuhkan bantuan untuk menekan Israel, Palestina juga memerlukan segala perangkat untuk keperluan membangun negara. "Yang kami butuhkan terutama adalah komponen sumber daya manusia. Tentu ada sektor infrastruktur yang perlu dibangun," kata Mehdawi.
Menurut Mehdawi, Indonesia sudah memberikan 1 juta dolar untuk membangun kembali wilayah Gaza dan bentuk bantuan kemanusiaan lain. "Indonesia sudah melakukan apa yang perlu dilakukan, dan kami tidak bisa meminta lagi. meski Indonesia selalu bertanya apa lagi yang kami perlukan," kata Mehdawi yang sempat memberikan pidato dalam bahasa Indonesia tersebut.
Padahal, pembangunan pemukiman Israel membuat segala sesuatu semakin rumit. "Bagaimana kami bisa membangun negara kalau ada orang lain yang beraktivitas di tempat itu?" kata Mehdawi.
Mehdawi menilai Israel tidak serius untuk mencapai solusi. Komunitas internasional, menurut Mehdawi, sadar dan mengecam hal itu, termasuk Presiden Barack Obama.
"Kalau Anda mau membangun rumah, bangun di properti Anda sendiri. Kenapa kamu datang ke properti kami. Itu memperumit keadaan. Kami tidak akan duduk di meja perundingan karena mereka mendikte hasil perundingan," kata Mehdawi tegas.
• VIVAnews