VIVAnews - Andal Ampatuan Jr., tersangka utama pembantaian 57 orang di Pulau Mindanao, Filipina, menyatakan diri tidak bersalah atas semua dakwaan pembunuhan yang dijatuhkan kepadanya. Sangkalan itu dilontarkan Ampatuan Jr. dalam sidang pengadilan di Manila, Selasa 5 Januari 2010.
Sidang kali ini baru dalam tahap membacakan 41 dakwaan pembunuhan kepada Ampatuan Jr., putra gubernur Maguindanao, Andal Ampatuan Sr., yang dikenal sebagai sekutu politik Presiden Gloria Macapagal Arroyo. Dalam sidang itu, terdakwa dikawal oleh lebih dari 30 polisi bersenjata.
Stasiun televisi BBC mengungkapkan, Ampatuan Jr. menyangkal dakwaan pembunuhan dalam serangan yang berlangsung 23 November 2009. Serangan itu menewaskan para kerabat dan pendukung Esmael Mangudadatu - yang menantang Ampatuan Sr. dalam pemilu gubernur tahun depan - serta puluhan wartawan yang ikut dalam konvoi.
Rombongan tersebut berada dalam iring-iringan kendaraan menuju ibukota Maguindanao untuk mendaftarkan pencalonan Mangudadatu. Namun, di tengah jalan, mereka dicegat oleh kelompok bersenjata pimpinan Ampatuan Jr. dan akhirnya dibunuh.
Ayah terdakwa dan beberapa anggota lain klan Ampatuan juga dikenai dakwaan, yaitu berupaya melakukan pemberontakan.
Sebelumnya, dalam sidang mendengarkan keterangan saksi, Ampatuan Jr. sempat dipukul dan dicaci maki oleh sekelompok wartawan yang marah. Mereka tidak terima dengan tewasnya sekitar 30 wartawan yang ikut dalam rombongan pendukung Mangudadatu.
Sementara itu, hakim menunda persidangan hingga pekan depan agar para saksi bisa dipanggil untuk memberikan dukungan pada aplikasi uang jaminan yang diajukan Ampatuan.
Kalangan analis telah memperingatkan bahwa proses persidangan kali ini merupakan ujian bagi pengadilan Filipina karena di masa lalu tokoh-tokoh kaya dan terpandang mencoba keluar dari penjara dengan kekuatan finansial mereka .
Lembaga International Crisis Group di Brussels, Belgia, bulan lalu mengatakan bahwa Presiden Arroyo juga ikut bersalah dalam peristiwa pembantaian itu karena dia sudah membiarkan pihak yang sewenang-wenang di wilayah setempat memenuhi sifat ambisius dan keserakahannya.
Arroyo sendiri sempat memperlakukan darurat militer selama beberapa waktu di Magundanao menyusul pembantaian itu. Dia saat itu berjanji akan menyeret para pelaku pembunuhan ke pengadilan.