VIVAnews - Ungkapan belasungkawa atas kepergian Abdurrahman Wahid terus mengalir dari sejumlah kepala negara dan tokoh pemerintahan. Perdana Menteri Malaysia, Najib Tun Razak, menyampaikan simpati pada keluarga mantan presiden Indonesia dan juga kepada rakyat Indonesia, Kamis 31 Desember 2009.
"Dia adalah seseorang dengan pemikiran lebih maju pada masanya, seorang penganut teguh akan pentingnya toleransi dan persatuan dalam kebutuhan untuk melindungi kaum lemah, termasuk kelompok minoritas," kata Najib seperti dikutip dari Bernama.
Menurut Najib, Abdurrahman Wahid atau yang akrab disebut Gus Dur selalu menekan pemerintah agar menyederhanakan semua proses demi kepentingan orang banyak.
Sementara itu, Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong, mengirimkan ucapan duka cita melalui sebuah surat kepada istri Gus Dur. Menurut Lee, seperti dikutip dari laman Channel News Asia, Gus Dur akan selalu dikenang sebagai penegak Islam moderat dan pembela kalangan minoritas.
Sedangkan pejabat senior Goh Chok Tong yang pernah bekerja sama dengan Gus Dur, menilainya sebagai seseorang yang cerdas dan memiliki rasa humor. Beberapa pejabat senior Singapura lain, termasuk menteri luar negeri George Yeo, juga menuliskan surat pada istri Gus Dur.
Ungkapan simpati juga datang dari Kuwait. Emir Kuwait, Yang Mulia Sheikh Sabah Al-Ahmad Al-Jaber Al-Sabah, mengungkapkan duka cita kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Tokoh penting lain dari Kuwait, yakni Putra Mahkota Sheikh Nawaf Al-Ahmad Al-Jaber Al-Sabah dan Yang Mulia Perdana Menteri Sheikh Nasser Al-Mohammad Al-Ahmad Al-Jaber Al-Sabah juga mengirimkan ucapan senada.