VIVAnews - Aparat keamanan Iran tengah gencar menindak keras para pemrotes anti-pemerintah pasca demonstrasi berdarah. Aparat bahkan menangkap adik sastrawan peraih Nobel Perdamaian dan para pemimpin oposisi, Selasa 29 Desember 2009.
Mereka juga membatasi pergerakan para pemimpin oposisi lainnya sekaligus menuding Amerika Serikat (AS) dan Inggris mendalangi kekerasan yang terjadi akhir pekan lalu. Pemerintah Iran juga mengancam akan 'menampar' wajah Inggris saat memanggil Duta Besar Inggris dalam sebuah pertemuan penting.
Demonstrasi kubu oposisi di beberapa kota di Iran, Minggu 27 Desember 2009, berubah menjadi konfrontasi berdarah antara pemrotes dengan pasukan keamanan. Insiden itu menewaskan sedikitnya delapan pendemo.
Sementara itu Presiden Mahmoud Ahmadinejad, Senin 28 Desember 2009, menuduh para pemrotes memainkan peran sesuai keinginan Zionis dan Amerika. Dia mengkritik Barack Obama dan Inggris yang mendukung demonsrasi di Iran.
"Negara Iran memiliki bukti atas permainan yang telah dilakukan beberapa kali," kata Ahmadinejad ssperti disiarkan kantor berita IRNA. Pendukung pemerintah melakukan demo di sedikitnya tiga kota Selasa kemarin, memprotes oposisi dan para pemimpinnya.
Menurut laman internet milik oposisi, 10 orang ditangkap. Satu diantara mereka adalah adik perempuan Shirin Ebadi, peraih Nobel Perdamaian 2003 atas perjuangannya menegakkan hak azasi manusia di Iran.
Noushin Ebadi ditangkap di rumahnya dan dibawa ke penjara oleh empat agen intelijen Iran. Penangkapan ini terkait dengan pernyataan keras Shirin yang mengritik pemerintah. Pemerintah Iran juga berharap dapat membujuk Shirin menghentikan kampanye hak-hak sipil.
AS dan Inggris mengkritik keras penangkapan tersebut karena meningkatkan ketegangan hubungan Iran dan negara barat. Negara-negara Barat mengancam akan memberikan sanksi baru terhadap negara yang diduga mengembangkan program nuklir. Negara barat juga memprotes penangkapan atas para pendemo anti-pemerintah. (AP)