VIVAnews - Dua hari menjelang eksekusi mati seorang warga negara Inggris, Akmal Shaikh, dua anggota keluarga terdakwa mengunjungi China untuk meminta pengampunan. Akmal Shaikh divonis hukuman mati karena terbukti membawa heroin ke China.
Seperti dikutip dari harian Telegraph, dua orang sepupu Akmal Shaikh, Suhail dan Nasir Shaikh tiba di Urumqi, wilayah barat China. Di tempat inilah Akmal Shaikh ditangkap dan dipenjarakan karena terlibat perdagangan narkotika.
Pemerintah China merencanakan eksekusi mati Shaikh pada pukul 10 pagi, Selasa, waktu setempat. Pemerintah mengizinkan kedua anggota keluarga bertemu Shaikh di penjara pada hari Senin. Sejak ditangkap dua tahun lalu, Shaikh tidak pernah berhubungan dengan keluarganya.
Sally Rowen, Direktur Legal Lembaga Kemanusiaan Reprieve mengatakan, "Mereka sangat gugup dan menunggu pertemuan pertama dengan Akmal setelah dua tahun. Kemungkinan pertemuan itu juga untuk terakhir kalinya."
Rowen menambahkan dua orang sepupu membawa pesan dari keluarga Akmal. "Pertemuan nanti akan menjadi sangat emosional."
Suhail dan Nasir Shaikh menyampaikan petisi kepada pengadilan China tinggi yang memvonis mati Shaikh pada November 2008. Petisi juga disampaikan ke Mahkamah Agung China yang mengabulkan hukuman mati itu, Senin pekan lalu. Petisi berisi permintaan pemeriksaan kesehatan jiwa Akmal, yang ditolak pemerintah China. Keluarga Shaikh menyatakan pria 53 tahun itu menderita gangguan kepribadian ganda dan kejiwaan. Akibatnya, dengan mudah Akmal dapat dibohongi agar membawa narkotika ke China.
Selain itu, keduanya mengajukan permohonan secara pribadi kepada Presiden China Hu Jintao dan parlemen China. Suhail Shaikh mengatakan, keluarga meminta agar pemerintah China mengevaluasi ulang pemeriksaan mental Shaikh. "Apakah dari hasil pemeriksaan, hukum China membolehkan hukuman mati kepada Akmal," katanya
Sebelumnya, pemerintah Inggris melakukan upaya serupa untuk mencegah hukuman mati Shaikh. Perdana Menteri Gordon Brown menelepon Perdana Menteri Wen Jibao meminta pengampunan bagi warganya awal Desember lalu. Namun hingga kini tidak ada respon dari pemerintah China.
Pertemuan yang sedianya berlangsung di Kopenhagen pertengahan Desember juga mengalami kegagalan. Akmal Shaikh berasal dari kota kecil Kentish, di sebelah Utara London. Dia ditangkap pada September 2007 di bandara Urumqi dengan tas berisi empat kilogram heroin.