VIVAnews - Musim salju ekstrem yang melanda di sejumlah negara Eropa mengakibatkan gangguan transportasi dan penundaan jadwal penerbangan. Hujan salju bahkan juga merenggut nyawa sedikitnya 71 orang akibat kedinginan dan kecelakaan lalu lintas.
Laman stasiun televisi VOA News mengungkapkan badai salju menghantam Eropa dan suhu ekstrem menimbulkan kerusakan transportasi serta longsoran salju. Padahal, saat ini sebagian warga Eropa tengah bersiap melakukan perjalanan liburan akhir tahun.
Akibat badai salju, kerusakan kereta api bawah laut Eurostar dengan rute London-Paris membuat ribuan calon penumpang terlantar di Paris, London, dan Brussels. Masalah itu terjadi sejak lima kereta Eurostar mogok di sebuah terowongan dan ribuan penumpang terjebak 16 jam akhir pekan lalu.
Pemerintah Prancis menyatakan tengah menginvestigasi penyebab kerusakan. Sementara, Presiden Prancis Nicolas Sarkozy memerintahkan Eurostar untuk kembali melayani penumpang Selasa ini.
Sebelumnya, pejabat eksekutif Eurostar, Nicolas Petrovic, memprediksi layanan terbatas Eurostar mulai Selasa. "Layanan transportasi akan dimulai saat semuanya kembali seperti semula." Dia memperkirakan layanan mulai kembali normal setelah hari Natal.
Cuaca buruk juga terjadi di belahan Eropa lainnya. Hujan salju di Jerman memaksa pemerintah menutup bandara Duesseldorf. Penumpang di bandara Belgia, Jerman dan Prancis juga terlantar akibat penundaan penerbangan. Jalur kereta api Belgia-Italia tertutup lapisan es tebal yang mengganggu perjalanan kereta api.
Laman stasiun Press TV mengungkapkan bahwa dalam beberapa hari terakhir, sedikitnya 71 orang meninggal dunia karena suhu ekstrem di Polandia, Austria dan Jerman. Sebagian besar korban berada di Polandia.
Suhu udara di Polandia sempat menukik tajam menjadi minus 30 derajat Celcius selama akhir pekan. Sedangkan salju tebal mengakibatkan kecelakaan lalu lintas di Finlandia, Prancis, Jerman dan Austria dengan korban tewas belasan orang.