Dunia

Sutradara "Balibo" Kecewa Filmnya Dilarang

Rakyat Indonesia tidak bisa menyaksikan film yang berhubungan dengan sejarah mereka

Rabu, 2 Desember 2009, 12:05 WIB
Renne R.A Kawilarang, Harriska Farida Adiati
Ramos Horta dan kru film Balibo Five (www.balibo.com)

VIVAnews - Sutradara film "Balibo" mengaku kecewa atas larangan penayangan film tentang kematian lima jurnalis Australia di Timur Timur (Timor Leste) pada 1975 tersebut. Film yang dibuat berdasarkan peristiwa "Balibo Five" dan dirilis di Australia awal 2009 tersebut sedianya tayang perdana di Jakarta pada Selasa malam, 1 Desember 2009.

Namun hanya beberapa jam sebelum tayang, film garapan sutradara Australia, Robert Connolly, tersebut dilarang tayang oleh Lembaga Sensor Film (LSF).

"Lihat, saya sangat kecewa. Saya punya harapan sangat tinggi terhadap film ini dan juga harapan akan dampaknya bila film ini diputar di Indonesia," kata Robert Connolly kepada stasiun televisi ABC News, Rabu 2 Desember 2009. "Saya menyesalkan bahwa meski di zaman demokrasi sekarang di Indonesia, rakyat Indonesia tidak bisa menyaksikan film yang berhubungan dengan, kita tahu, sejarah mereka," lanjutnya.

Kekecewaan yang dirasakan Connolly diibaratkan sebagai seorang produser yang membuat film pada tahun 1980 mengenai peristiwa-peristiwa tahun terakhir Perang Dunia II, kemudian menerima pemberitahuan kalau film tersebut tidak bisa ditayangkan.

"Sebenarnya, kalau kita memikirkan rentang waktu dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam periode sejarah itu, kita bisa meneliti peristiwa-peristiwa tahun 1975 itu secermat mungkin," kata sutradara yang ikut menulis naskah "Balibo".

Film "Balibo" dibuat berdasarkan peristiwa Balibo Five di mana sekelompok pencari berita jaringan televisi Australia di kota Balibo, dibunuh pada 16 Oktober 1975 dalam serangan TNI ke wilayah tersebut sebelum invasi Indonesia ke Timor Timur.

Pada 2007, pengadilan Australia menetapkan bahwa para jurnalis tersebut sengaja dibunuh oleh pasukan khusus Indonesia. Sedangkan menurut versi pemerintah Indonesia, mereka terbunuh dalam sebuah baku tembak.

Mereka yang menjadi korban Balibo Five adalah dua warga Australia, yakni reporter Greg Shackleton (27 tahun) dan perekam suara Tony Stewart (21 tahun); seorang warga Selandia Baru, juru kamera Gary Cunningham (27 tahun) yang bekerja untuk jaringan HSV-7 (Seven Network) di Melbourne; serta dua warga Inggris, yakni juru kamera Brian Peters (29 tahun) dan reporter Malcolm Rennie (28 tahun) yang bekerja untuk jaringan TCN-9 (Nine Network) di Sydney.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
hendro S
20/01/2010
gue sih dah pernah liat filmnya, cman apa memang bener TNI saat itu bertindak brutal kyak dlm film tsbt
Balas   • Laporkan
gombloh
02/12/2009
Hahaha.. orang2 ini otaknya pada kemana sih? Makin dilarang, akhirnya makin dicari. Peredarannya di bawah tanah gak akan bisa dicegah. Lihat deh besok. 90% surat kabar pagi akan memuat berita ini.
Balas   • Laporkan
gambleh
02/12/2009
masyarakat Indo masih mendewakan yg namanya 'media', setiap hal yg muncul di media langsung dianggap fakta dan benar,dari berita bahkan film2 sekalipun. Jadi, yg penting lembaga sensor ngasih alasan ato dasar2 pelaranga film2 itu. LSF jangan asal melarang
Balas   • Laporkan
GAga
02/12/2009
klo menurut gw knp hrs dilarang!! tambah bikin org penasaran isi film nya!!|klo bener kenapa hrs takut!!! toh biarkan rakyat yg menilainya.
Balas   • Laporkan
GAga
02/12/2009
menurut gw sih ngapain dilarang!! bikin org tambah penasaran aja!! klo bener kenapa musti takut............. toh biarkan rakyat yg menilainya.
Balas   • Laporkan
boma
02/12/2009
saya juga sangat menyesal, kenapa Robert Connolly bikin film balibo. bikin film yang laen ja, yang bisa lulus sensor...enak kan...gitu ja kok repot
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ