Dunia

RI Kecewa Soal Larangan Bangun Menara Masjid

Pemerintah Swiss sendiri menentang gagasan yang dicapai melalui voting tersebut.

Selasa, 1 Desember 2009, 23:35 WIB
Amril Amarullah
Marty Natalegawa (AP Photo)

VIVAnews -- Pemerintah Indonesia kecewa terhadap hasil penghitungan suara di Swiss yang melarang pembangunan menara-menara baru, tempat ajakan shalat bagi kaum Muslim dikumandangkan. Hal itu dikemukakan oleh Menteri Luar Negeri Marty M Natalegawa di Gedung Departemen Luar Negeri Jakarta, Selasa (1/12).

Saat diminta komentarnya terkait dengan berbagai kontroversi yang terjadi di Swiss setelah hasil referendum yang dilakukan Parlemen Swiss yang melarang pembangunan menara masjid di sana, ia mengatakan,

"Kita mengikuti, mengetahui sikap pemerintah Swiss. Kita sangat kecewa, untuk itu kita perlu lebih membangun jembatan dialog. Kita memikul tanggungjawab khusus mengenai hal ini." ujarnya seperti yang dilansir tvone.

Menurut Menlu Marty, Pemerintah Swiss sendiri menentang gagasan yang dicapai melalui voting tersebut. Ia menilai, keputusan itu sangat bertolak belakang dengan pandangan sejumlah pihak terhadap masyarakat Swiss yang dinilai sangat terbuka, sangat toleran dan lain-lain.

"Sebagai kita, ini mengingatkan kita betapa upaya interfaith dialog, untuk bisa menanamkan pemahaman di kalangan masih sangat perlu. Jangan sampai karena ketidaktahuan muncullah kebijakan-kebijakan yang jelas tidak bisa kita terima.," katanya.

Indonesia, lanjut dia, secara konsisten selalu senantiasa dan akan terus menjunjung tinggi masalah hak asasi untuk melaksanakan agama. "Dan oleh karena itulah kita tidak bisa bahkan mengecam setiap langkah yang diskriminatif dan membatasi beragama," ujarnya.

Lebih lanjut Menlu berharap agar masyarakat Indonesia bersikap dengan jernih. "Sekarang menurut hemat kita yang perlu menjadi tugas kita adalah justru membangun jembatan, bagaimana kita bisa menjembatani mengapa masih ada stereotipe semacam ini," katanya.

Jadi, lanjut dia, Indonesia akan lebih cakap dan cerdas jika dengan kepala dingin, penuh akal sehat dan semangat yang konstruktif serta edukatif mendorong sikap-sikap mencegah diskriminasi.

"Kita beritahu masyarakat Swiss bahwa langkah itu tidak bisa diterima. Tapi dengan cara yang cerdas, baik, dengan santun, karena hal-hal lain di luar itu tidak akan membantu masalah. Jadi dialog-dialog-dialog, dengan cara yang cakap, cerdas serta terukur," ujarnya.

Di Swiss, sebuah referendum berupa pelarangan menara mesjid baru yang disponsori oleh partai terbesar di negara itu, Partai Rakyat Swiss (SVP), berhasil disahkan setelah didukung oleh sebagian besar pemberi suara. Pelarangan melalui referendum itu terwujud setelah tercapainya 100.000 tandatangan yang dikumpulkan dalam waktu 18 bulan dari para pemilih yang sah.

Komite Hak Asasi Manusia PBB pada bulan lalu juga telah menyatakan bahwa pelarangan itu bertentangan dengan kewajiban yang harus dijalankan Swiss dalam menegakkan HAM sesuai dengan hukum internasional yang berlaku.

Sementara itu Pelapor Khusus bagi Dewan HAM PBB Asma Jahangir mendesak pihak-pihak berwenang di Swiss --negara yang sudah meratifikasi Perjanjian Internasional tentang Hak Politik dan Sipil-- untuk secara penuh melindungi hak kebebasan beragama bagi masyarakat Muslim.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
adi permana
26/02/2010
buat ucok....kamu tau apa to...soal agama orang... mo teriak-teriak to mo apa ke' terserah dia...jngn urusin agama orang ngapa... mana buktinya....di jalan2 banyak tu..gereja yang di bangun dengan megah kok di bilang sulit.....aneh wong iki... tata cara u
Balas   • Laporkan
adi permana
26/02/2010
Ya....begitulah keadaan orang muslim di indonesia tolerant bangetkan...tapi mengapa masih aja orang muslim di sudutkan dengan menghina, mencaci... apasalah kaum minoritas muslim di swiss tidak boleh adzan....
Balas   • Laporkan
ucok
01/02/2010
sungguh aneh mo ngajak sholat aja harus teriak- teriak. Mau panggil Tuhan aja pake teriak-teriak. Lebih parah lagi nggak di kasi ngebangun menara mesjit di negara orang aja masih pengen teriak-teriak. di negara sendiri aja mau bangun gereja susah be
Balas   • Laporkan
Arief Setiawan
30/01/2010
Ya begitulah negara Swiss takut dengan perkembangan Islam di Negaranya termasuk jg di Belanda dan Perancis yg selalu berusaha membatasi kebebasan beragaman terutama Islam..KLo suara adzan mengganggu emanggnya suara Lonceng ngga mengganggu org laen..makany
Balas   • Laporkan
deddy
30/01/2010
Sekar ayu adalah contoh manusia yg memiliki pandangan yg sempit, egois tidak memiliki wawasan hak asasi manusia yg luas, muslim dan muslimah tidak terpisah oleh negara, suku, ras atau apapun dia adalah hamba Aallah yg memiliki hak yg sama sesuai dengan ko
Balas   • Laporkan
Ruly
29/01/2010
Anda ini gimana sekar ayu? Yang mengutarakan kekecewaan kan Menlu, urusannya luar negeri, jd ya sudah pada porsinya donk.. Kalo mo protes ke Mendagri, itupun kalau argumentasi anda mengenai sulitnya membangun rumah ibadah di negeri sendiri adalah benar ad
Balas   • Laporkan
jhosua
23/01/2010
puji tuhan umat kristiani di indonesia bs punya gereja megah2....padahal qt disini minoritas....gbu
Balas   • Laporkan
jhosua
23/01/2010
puji tuhan umat kristiani di indonesia bs punya gereja megah2....padahal qt disini minoritas....gbu
Balas   • Laporkan
jhosua
23/01/2010
puji tuhan umat kristiani di indonesia bs punya gereja megah2....padahal qt disini minoritas....gbu
Balas   • Laporkan
jhosua
23/01/2010
puji tuhan umat kristiani di indonesia bs punya gereja megah2....padahal qt disini minoritas....gbu
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ