VIVAnews - Perusahaan investasi Dubai World berencana melakukan restrukturisasi atas sejumlah anak perusahaannya demi mengatasi krisis pembayaran utang puluhan miliar dolar. Unit-unit yang direstrukturisasi adalah perusahaan properti yang memiliki utang besar, yaitu senilai total US$26 miliar
"Proses restrukturisasi hanya akan melibatkan Dubai World dan sejumlah anak perusahaan seperti Nakheel World dan Limitless World," demikian pernyataan Dubai World Senin malam, 30 November 2009, seperti dikutip harian The Wall Street Journal.
Dubai World Rabu pekan lalu meminta para kreditur untuk bersabar menerima pembayaran utang selama enam bulan ke depan atau hingga Mei 2010. Utang pokok yang harus ditanggung Dubai World sebesar US$60 miliar. Bila termasuk bunga, beban yang harus ditanggung grup perusahaan dukungan pemerintah itu menjadi sekitar US$80 miliar.
Kini, kalangan pengamat dan investor menunggu strategi pemulihan yang dilakukan Dubai World. Pasalnya, kabar kesulitan Dubai World sudah mengguncang bursa-bursa saham internasional.
Dubai World, yang sebagian besar sahamnya dimiliki Emir Dubai merangkap Perdana Menteri Uni Emirat Arab, Sheik Mohammed bin Rashid Al-Maktoum, menyatakan bahwa total nilai utang perusahaan-perusahaan yang akan direstrukturisasi sekitar US$26 miliar. Sekitar US$6 miliar diantaranya berupa sukuk (obligasi syariah) milik Nakheel.
"Pembicaraan tahap awal telah melibatkan sejumlah bank Dubai World dan berlanjut secara konstruktif," demikian pernyataan Dubai World. Perusahaan itu memastikan bahwa proses restrukturisasi tidak akan melibatkan perusahaan-perusahaan lain seperti Infinity World Holding, Istithmar World dan Ports and Free Zone World. Perusahaan-perusahaan itu dinilai masih memiliki kinerja dan basis keuangan yang baik.