Dunia
Pembantaian Rombongan Wartawan Filipina

Tersangka Pembantai Serahkan Diri

Jumlah korban tewas akibat pembantaian di Maguindanao Senin lalu bertambah jadi 57 orang

Kamis, 26 November 2009, 14:31 WIB
Renne R.A Kawilarang, Anda Nurlaila
Seorang tentara mengawal Amdal Ampatuan Jr. di Maguindanao, Filipina (AP Photo/Froilan Gallardo)

VIVAnews - Seorang walikota sekaligus putra gubernur Provinsi Maguindanao, Filipina, menyerahkan diri ke aparat keamanan. Dia dicurigai ikut melakukan pembantaian atas sedikitnya 57 orang.

Andal Ampatuan Jr. menyerahkan diri setelah pasukan pemerintah mencari para pelaku pembantaian yang terjadi di Filipina bagian selatan Senin lalu. Komandan militer Filipina, Raymundi Ferrer, mengatakan Andal menyerahkan diri Rabu lalu, 25 November 2009, kepada penasehat presiden Jesus Dureza di ibukota provinsi Maguindanao, Shariff Aguak.

"Dia dibawa helikopter militer di dekat kota dan akan diterbangkan ke ibukota Manila untuk diinvestigasi," kata Ferrer. Dia melanjutkan, keluarga Ampatuan setuju menyerahkan Andal untuk diinvestigasi.

Militer Filipina mengerahkan tank dan pasukan di Provinsi itu setelah memberlakukan status darurat.

Sementara itu, polisi dan tentara Rabu lalu menemukan 11 mayat di sekitar lokasi serangan. Enam mayat diantaranya ditemukan terkubur bersama tiga kendaraan. Lima mayat lainnya ditemukan di pemakaman umum, beberapa kilometer dari jalan tol. Maka, jumlah korban pembantaian yang meninggal bertambah menjadi 57 orang, 18 diantaranya jurnalis.

Ferrer menyebutkan, ketegangan di ibukota Provinsi Maguindanao memanas setelah 350 pasukan pro-Pemerintahan yang setia kepada keluarga Ampatuan membantai puluhan orang jelang pemilihan gubernur. Di Filipina bagian selatan, selain menumpas pemberontakan, tentara seringkali berurusan dengan politisi setempat.

Keluarga Ampatuan memimpin Provinsi Maguindanao sejak 2001 dan berjasa membantu Presiden Gloria Macapagal Arroyo dan sekutunya memenangkan pemilu presiden 2004. Keluarga ini juga  memberi kontribusi penting pada pemilihan parlemen 2007.

Sementara itu, Presiden Arroyo mendapat tekanan meenegakkan keadilan terhadap para korban pembantaian. Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-Moon, media massa, dan lembaga HAM menyatakan keprihatinan atas pembunuhan itu.

Setelah menerima ancaman pembunuhan, Wakil Walikota Buluan, Ismael Mangudadatu awal pekan ini mengutus istri dan rekan-rekannya untuk mendaftarkan pencalonannya pada pemilihan gubernur Senin lalu. Namun konvoi pendukung Mangudadatu dan rombongan wartawan dihentikan sekelompok pasukan dan terjadilah pembantaian. (AP)

• VIVAnews
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ