VIVAnews - Militer Filipina menemukan 21 mayat di wilayah selatan setelah kelompok bersenjata menyandera tiga mobil konvoi politisi pada Senin pagi waktu setempat, 23 November 2009.
Rombongan politisi, pendukung, dan jurnalis lokal tersebut sedang dalam perjalanan untuk mendaftarkan nominasi mereka dalam pemilu tahun depan saat sekitar 100 orang bersenjata mencegat mereka.
Mayat korban yang terdiri atas 13 perempuan dan delapan laki-laki ditemukan di kotapraja Ampatuan.
Menurut Mayor Jenderal Alfredo Cayton, lokasi tersebut berjarak lima kilometer dari lokasi saat mereka ditangkap oleh kelompok bersenjata. Identitas para penyerang belum diketahui, tetapi keluarga korban menuduh rival politik berada di balik serangan ini.
Pemilihan umum di Filipina sering sekali diwarnai aksi kekerasan di wilayah selatan karena adanya beberapa kelompok bersenjata, termasuk pejuang muslim yang menuntut wilayah otonomi di negara dengan penduduk mayoritas Katolik Roma tersebut.
Aksi kelompok militan muslim ini telah menewaskan sekitar 120.000 orang sejak 1970-an.
Penasehat presiden, Jesus Dureza mengatakan bahwa aksi-aksi kekerasan harus dihentikan sama sekali. Dia menyarankan agar status darurat diberlakukan di wilayah tersebut untuk melumpuhkan kawanan bersenjata. Pemilu di Filipina dijadwalkan akan berlangsung pada Mei 2010.
Peserta konvoi yang ditangkap antara lain istri wakil walikota Buluan, Ismael Mangudadatu, bersama dua saudara perempuannya, pengikut, dan beberapa jurnalis lokal. (AP)
antique.putra@vivanews.com