SURABAYAPOST – Jembatan penghubung dua desa antara Desa Plabuhan dan Desa Sambisari di Kecamatan Plandaan, Kab. Jombang kini terancam terputus jika debit air di sungai itu membesar. Pasalnya, tanah penahan kaki jembatan itu kini longsor.
Jika terputus maka berakibat aktivitas perekonomian warga yang menggunakan jembatan tersebut terganggu. Pasalnya, jembatan yang dibangun sejak 1997 itu juga menjadi jalan satu-satunya bagi warga hendak berkunjung kedua desa tersebut.
Selain tanah penahan kaki jembatan longsor, tiang penyangga jembatan juga retak. Sehingga pengendara kendaraan yang melalui jembatan itu kini was-was karena khawatir jembatan yang dilalui ambrol.
Untuk mencegah agar jembatan tadi kerusakannya tidak semakin parah, maka warga melarang mobil, truk lewat jmbatan tadi. “Mobil harus berputar lewat jalur lain yang menempuh perjalanan sampai 10 kilometer,” ujar Wiranto (32), warga Desa Plabuhan, Senin 23 November.
Retaknya kaki jembatan itu, karena kaki jembatan akhir-akhir ini sering diterjang arus deras disungai itu. “Kalau tidak tanah penahan kaki jembatan tidak segera diperbaiki bisa-bisa kaki jembatan ambles, badan jembatan sepanjang 7 meter bisa putus,”katanya.
Sekarang ini, lanjut Wiranto badan jembatannya mulai retak. “Sebetulnya ada jalan lain yang bisa dilali warga jika ingin ke kota kalaua jemabatan ini putus. Yakni melalui jembatan di Desa Pojokklitih. Namun, jaraknya lebih jauh, dan kondisi jalanya juga rusak banyak berlubang, jika hujan jalan itu rawan kecelakaan,”katanya.
Buchori (40), warga lainnya menilai jika jembatan penghubung ini putus, maka
Akan menambah biaya transpor bagi petani dan pedagang. Karena dengan jalan memutar maka biaya transportasi jelas semakin mahal, dan memakan waktu banyak,”katanya.
Laporan: Syarif Abdullah