VIVAnews - Perdana Menteri Australia, Kevin Rudd, meminta maaf kepada ratusan ribu anak yang mengalami kesengsaraan atau diabaikan oleh pemerintah di masa lampau. Ini terkait dengan laporan bahwa sekitar 500.000 warga Australia mengalami perlakuan yang tidak semestinya atau ditelantarkan di panti asuhan atau tempat penampungan anak selama periode 1930 hingga 1970.
Seperti dikutip dari laman stasiun televisi BBC, Rudd menyampaikan permintaan maaf mendalam atas rasa sakit yang dialami anak-anak tersebut dan keluarga mereka besar mereka. Dia berharap, permintaan maaf ini bisa membantu menyembuhkan rasa sakit dan menjadi titik balik sejarah Australia.
Upacara penghormatan bagi mereka yang terabaikan dilakukan di Canberra, Senin 16 November 2009. Ratusan orang yang dulu terpaksa bermigrasi ke Australia saat masih muda menghadiri upacara di ibukota Australia tersebut.
Rudd juga menyampaikan maaf pada para imigran anak-anak yang dibawa dari Inggris ke Australia setelah perang, yang seringkali tanpa persetujuan orang tua mereka. Sedangkan pada Minggu kemarin, pemerintah Kerajaan Inggris mengatakan bahwa Perdana Menteri Inggris aka meminta maaf atas kebijakan migrasi paksaan pada tahun depan.
Di bawah Program Migrasi Anak, sebuah program yang berakhir 40 tahun lalu, Kerajaan Britania Raya (Inggris) mengirim anak-anak dari keluarga miskin ke Australia, Kanada, atau tempat lain agar mereka mendapat hidup yang lebih baik.
Dipaksa keluar dari Inggris, banyak anak diberi tahu kalau orang tua mereka sudah meninggal. Sebaliknya, sebagian besar orang tua tidak tahu kalau anak-anak mereka, yang berusia paling muda tiga tahun, telah dikirim ke Australia dan negara-negara koloni Inggris lainnya.
Banyak anak migran tersebut kemudian mendapat pendidikan hanya mengenai pertanian. Mereka juga mengalami berbagai siksaan fisik, psikologis, dan pelecehan seksual.