VIVAnews - Upaya Presiden Barack Obama untuk menyelamatkan kelanjutan perundingan damai untuk Timur Tengah tampaknya belum membuahkan hasil. Pertemuan Obama dengan Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, hanya berakhir dengan pernyataan singkat dari Gedung Putih, Senin 9 November 2009.
Netanyahu meninggalkan Gedung Putih setelah melewatkan 1 jam 40 menit di dalam kantor kepresidenan AS tersebut bersama Obama. Obama dan tamunya juga tidak muncul bersama di hadapan publik pasca pertemuan.
Pernyataan dari Gedung Putih hanya mengatakan bahwa kedua pemimpin negara tersebut mendiskusikan sejumlah isu bilateral, termasuk mengenai Iran dan mengenai bagaimana menindaklanjuti soal perdamaian Timur Tengah.
Seperti dikutip dari laman stasiun televisi al-Jazeera, Gedung Putih bersikap hati-hati agar tidak terkesan mereka berada di pihak Netanyahu. Juru bicara Gedung Putih, Robert Gibbs, sebelum pertemuan mengatakan bahwa kebijakan pemerintah AS selama beberapa dekade adalah untuk tidak lagi dibangun pemukiman, dan itu bukan sesuatu yang baru dalam pemerintahan.
Kemarin Netanyahu juga mendesak agar Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, yang pekan lalu mengumumkan tidak akan ambil bagian dalam pemilihan umum, untuk segera memperbarui negosiasi damai.
Sebelum pertemuan dengan Obama, Netanyahu mengatakan siap untuk berkomitmen dalam negosiasi damai. Namun prospek perundingan baru itu kemungkinan akan lebih suram dibanding sebelumnya akibat penolakan Israel untuk menunda aktivitas pemukiman di wilayah Palestina yang diduduki Israel.
Padahal Palestina menjadikan penghentian aktivitas pemukiman tersebut sebagai syarat untuk memulai kembali perundingan damai.
Pertemuan Netanyahu dengan Obama diumumkan Minggu malam lalu, hanya beberapa saat setelah Netanyahu tiba di Washington. Pengumuman di detik-detik terakhir itu memaksa pihak Israel dan AS menyangkal anggapan bahwa undangan tersebut merefleksikan bahwa pemerintahan Obama merasa frustasi terhadap Netanyahu.