VIVAnews - Presiden Otoritas Palestina di Tepi Barat, Mahmoud Abbas, menyatakan tidak akan maju dalam pemilihan presiden, Kamis 5 November 2009. Pengumuman ini membuka peluang bagi kandidat lain, termasuk dari kelompok militan Hamas, untuk memimpin Palestina di masa depan.
Mantan anggota parlemen sekaligus aktivis perdamaian Israel, Yossi Sarid menyayangkan keputusan Abbas ini. "Ini hampir pasti berarti kita akan memasuki periode pemerintahan ekstremis," ujar dia.
Abbas mengaku mengambil keputusan ini karena gagal melanjutkan pembicaraan perdamaian dengan Israel. Akhir bulan lalu, Abbas juga pernah menyebut tidak akan bertarung dalam pemilihan presiden yang akan diadakan Januari mendatang kepada Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Hillary Rodham Clinton.
Namun Abbas menarik keputusan itu setelah Presiden AS, Barack Obama, menghubunginya dan menegaskan komitmen AS terhadap perdamaian Timur Tengah. Sumber dalam pemerintahan mengatakan Abbas kembali mundur dan belum memberitahu Obama.
Sumber lainnya mengungkapkan bahwa Abbas kecewa karena AS menolak memaksa Israel menghentikan pendudukan dan pembangunan di Tepi Barat. Abbas juga tidak puas atas sikap Clinton yang tampak memihak kepada Israel dalam kunjungannya ke Timur Tengah, akhir pekan lalu.
Abbas berkeras bahwa dia tidak akan melanjutkan negosiasi hingga Israel berhenti membangun. Namun hal ini dikhawatirkan dapat membuat Fatah kalah dalam pemilihan dan Hamas mengambil alih pemerintahan. Jika itu terjadi, pembicaraan perdamaian akan terhenti total karena Hamas menolak solusi dua negara yang didukung Fatah. Hamas juga tidak mengakui keberadaan Israel.
Abbas memimpin Palestina sejak kematian Yasser Arafat, 2004 silam. Para pemimpin dunia Barat memandang dia sebagai sosok moderat karena dia memberikan kebebasan kepada perdana menteri Salam Fayyad untuk mereformasi ekonomi Tepi Barat.
Kandidat terkuat pengganti Abbas yaitu Marwan Barghouti yang sedang menjalani hukuman seumur hidup sejak 2002 di penjara Israel karena terlibat dalam serangan Palestina ke Israel. Namun Barghouti mengaku mampu menjalankan pemerintahan dari balik sel.
Popularitas salah satu pejabat Tepi Barat ini semakin meningkat setelah menolak diadili dalam pengadilan Israel. Barghouti pernah berkampanye untuk mengikuti pemilihan presiden 2004 namun mengundurkan diri atas desakan dari pemimpin Fatah. Kali ini, orang dekat dia menyatakan Barghouti tidak akan mundur.
Para petinggi Fatah lain diduga akan mengajukan Nasser al-Kidwa dalam pemilihan presiden. Dia pernah menjadi perwakilan Palestina untuk Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dan tidak terkait korupsi. Al-Kidwa juga memiliki keuntungan tambahan sebagai keponakan Arafat.
Kandidat potensial lainnya yaitu Mohammed Dahlan, mantan pejabat Fatah di Gaza. Saat ini Dahlan menjabat dalam dewan pembuat keputusan Fatah. Namun karirnya diwarnai tuduhan korupsi.
Juru bicara Hamas Taher Nunu mengaku tidak percaya Abbas akan pensiun. "Pidatonya bukan untuk warga Palestina saja. Kata-katanya terutama ditujukan supaya AS dan komunitas internasional mendukungnya dalam pemilihan," tutur Nunu. (AP)