Dunia

Penembakan di Barak Militer AS, 12 Tewas

Tersangka pelaku adalah seorang pakar kesehatan jiwa dan bekerja sebagai psikolog militer

Jum'at, 6 November 2009, 08:31 WIB
Renne R.A Kawilarang, Harriska Farida Adiati
Dua serdadu AS cemas atas nasib rekan-rekan mereka di Fort Hood, Texas (AP Photo/LM Otero)

VIVAnews - Penembakan brutal kembali terjadi di Amerika Serikat. Kali ini dilakukan seorang perwira di barak militer di Fort Hood, negara bagian Texas, Kamis 5 November 2009 waktu setempat.

Dengan dua senjata api, penembakan membabi-buta yang dilepaskan Mayor Nidal Malik Hasan ini menewakan 12 orang dan melukai 31 lainnya. Hasan sendiri tewas setelah dia ditembak oleh petugas keamanan. Dua prajurit lain ditangkap.

Motif penembakan belum diketahui. Menurut Letnan Jenderal Bob Cone, penembakan terjadi sekitar pukul 1.30 siang waktu setempat (Jumat dini hari WIB). Dia mengatakan, saat itu semua korban berada di gedung Soldier Readiness Center. "Ini adalah tragedi mengerikan, sangat mencengangkan," kata Cone.

Juru bicara Fort Hood, Rebekah Lampam, mengatakan, di tempat itu sedang diselenggarakan upacara kelulusan bagi para prajurit yang baru saja menyelesaikan sekolah militer. Penembakan terjadi saat upacara selesai atau saat para prajurit hendak dibubarkan.

Pejabat penegak hukum, yang tidak bisa diungkap namanya, mengidentifikasi tersangka pelaku bernama Mayor Nidal Malik Hasan. Hassan, kata pejabat tersebut, diyakini berusia akhir 30-an tahun. Hassan ditembak begitu dia mulai menembak petugas.

Pejabat lain yang juga tidak bisa diungkap namanya mengatakan, Hassan adalah seorang pakar kesehatan jiwa, psikolog atau psikiater militer. Belum jelas apa agama yang dianut Hassan, tetapi penyelidik sedang mencoba menyelidiki apakah nama Hassan adalah nama lahirnya atau apakah dia mengganti namanya.

Pangkalan itu ditutup setelah peristiwa terjadi. Korban luka dilarikan ke berbagai rumah sakit di pusat kota Texas. Juru bicara rumah sakit mengatakan, semua korban adalah orang dewasa dengan luka tembak. Pangkalan militer lain meski tidak ditutup, memperketat penjagaan.

Lisa Pfund mengatakan, putrinya yang berusia 19 tahun, Amber Bahr, tertembak di bagian perut, tetapi kondisinya membaik. "Kami tidak tahu apa-apa, kami hanya tahu bahwa dia tertembak di perut," kata Pfund.

Di Washington DC, Presiden Barack Obama menyebut penembakan itu sebagai serangan kekerasan mengerikan. Dia mengatakan, kematian para prajurit AS di luar negeri merupakan sebuah tragedi, dan lebih mengenaskan lagi saat mereka ditembaki di pangkalan militer di tanah Amerika sendiri.

Penembakan di pangkalan militer ini memunculkan lagi kenangan atas beberapa penembakan massal baru-baru ini di AS, termasuk penembakan di pusat imigran di New York pada Maret lalu di mana 13 orang tewas.

Sebelumnya muncul serangan di Alabama pada Maret lalu dengan 10 orang tewas, dan penembakan massal di kampus Virgina Tech pada 2007 di mana 32 orang tewas. (AP)

• VIVAnews
Rating
Komentar
Yadi
08/11/2009
tul ..ari.., jgn terpancing dgn sebuah nama... dan ini memang dunia maya..namun bukan berarti kalau komen tidak ada etika.. .
Balas   • Laporkan
ari
08/11/2009
krucil, maksud lu apa komen kayak gitu. kalo nama arab harus jadi teroris? hati2 bro...hati2. kalo gk ngerti mending diem aja deh.
Balas   • Laporkan
krucil
06/11/2009
Mayor Nidal Malik Hasan, dari namanya sdh jelas dia titipan teroris
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ