Dunia
Konflik di Timur Tengah

Sikap AS Atas Israel Melunak, Palestina Marah

Hillary Clinton malah desak Palestina untuk segera berunding dengan Israel tanpa prasyarat

Senin, 2 November 2009, 10:47 WIB
Renne R.A Kawilarang, Harriska Farida Adiati
PM Israel, Benjamin Netanyahu, dan Menlu AS, Hillary Clinton (AP Photo/Dan Balilty)

VIVAnews - Para pemimpin Palestina, Minggu 1 November 2009, geram dengan pernyataan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Hillary Clinton, atas Israel sehari sebelumnya. Dalam konferensi pers dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, Clinton malah mendukung sikap Israel dalam upaya memperluas pembangunan pemukiman warganya di Tepi Barat, yang merupakan wilayah Palestina.

Laman harian The Independent mengungkapkan bahwa Clinton memahami argumen Israel bahwa penghentian pembangunan pemukiman tidak masuk dalam syarat pembicaraan-pembicaraan damai dengan Palestina sebelumnya. Maka, usulan penghentian itu seharusnya tetap tidak bisa dijadikan syarat dalam pembicaraan damai kedua pihak, seperti yang tengah diupayakan oleh AS di bawah pemerintahan Barack Obama.

Sebaliknya, Clinton mendesak Palestina untuk menerima apa yang dia sebut sebagai "tawaran Israel yang belum pernah terjadi sebelumnya," yaitu agar kedua pihak "menahan diri" dan segera maju ke meja perundingan tanpa prasyarat apapun. Pernyataan Clinton ini memperlunak sikap AS yang pernah dilontarkan Obama, yaitu agar Israel harus membekukan secara total perluasan pembangunan pemukiman di wilayah Palestina.

Namun, beberapa jam kemudian, pernyataan Clinton dikritik oleh negosiator perundingan Palestina, Saeb Erakat. "Apa yang ditawarkan Israeal bukan tidak pernah terjadi," kata Erakat seperti dikutip stasiun televisi CNN.

"Sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya adalah penghentian pendudukan Israel dan penghentian kebijakan Israel dalam menguasai Yerusalem Timur, seperti perusakan rumah, pengusiran, dan ekspansi pendudukan. Jika Amerika tidak bisa membuat Israel membekukan pendudukannya, apa kesempatan yang dimiliki rakyat Palestina untuk mencapai kesepakatan dengan Israel?" tanya Erakat.

Bagi Palestina, tawaran "menahan diri" dari Israel itu adalah rekayasa belaka. Pasalnya, menurut pengertian AS dan Israel, pembangunan 3.0000 unit rumah dan gedung-gedung sarana umum akan tetap diselesaikan. Selain itu, tidak ada pembantasan atas pembangunan pemukiman di Yerusalem Timur.

Ghassan Khatib, juru bicara Otoritas Palestina di Tepi Barat, mengaku "terkejut dan kecewa" atas pernyataan Clinton. Menurut dia, komentar itu tidak akan membantu upaya perdamaian di Timur Tengah, seperti yang dijanjikan Obama. Sejak 2003, populasi orang Israel yang menguasai Tepi Barat meningkat sebesar 73.000 orang atau 17 persen.

Kemarin, Netanyahu mengatakan berharap perundingan damai akan segera dibuka kembali. "Kami sangat berharap rakyat Palestina akan masuk ke dalam proses ini," katanya sebelum rapat mingguan kabinet. "Proses damai sangat penting dan merupakan kepentingan bagi Israel dan Palestina."



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
hartono
02/11/2009
itulah bejatnya amerika . standar ganda . amerika cs tidak mungkin membela palestina sampai kiamat .para pejabat amerika itu adalah syetahn syethan manusia di muka bumi
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ