VIVAnews - Mulai November mendatang, penduduk di Islandia tak akan lagi bisa menikmati roti burger khas McDonald's. Pasalnya, waralaba yang berbasis di Amerika Serikat (AS) itu bakal berhenti beroperasi di Islandia mulai Sabtu 31 Oktober 2009.
Rupanya, pemilik lisensi McDonald's di Islandia, Magnus Ogmundsson, sudah tak kuat menanggung beban produksi usahanya yang kian merugi di tengah jatuhnya mata uang krona atas euro. Lagipula, makin sedikit warga Islandia yang membeli makanan di McDonald's karena mereka sendiri masih terjerat krisis ekonomi.
"[Nilai tukar] krona kini sedang lemah sedangkan kami membeli semuanya dalam mata uang euro. Kami pun masih menerapkan tarif tinggi untuk produk-produk impor pertanian," kata Ogmundsson kepada stasiun televisi CNN, Selasa 27 Oktober 2009.
Menurut Bank Sentral Islandia, pada Januari 2008 nilai tukar 1 euro masih dihargai sebesar 95 krona. Namun, Selasa 27 Oktober 2009, kurs euro kini sudah lebih dari 186 krona.
Tak heran bila banyak pengusaha Islandia yang mengandalkan produk impor seperti Ogmundsson menjerit melihat anjloknya nilai tukar krona atas euro. Sebenarnya, McDonald's, menurut Ogmundsson, juga berupaya mencari jalan keluar. Namun, saat ini belum solusi yang realistis sehingga tak ada pilihan bagi Ogmundsson untuk menutup semua gerai McDonald's.
"Kerumitan operasional dalam menjalankan bisnis di Islandia ditambah dengan situasi ekonomi yang tengah menjalani ujian yang berat di negeri ini membuat kegiatan bisnis ini secara finansial tidak bisa berlanjut," demikian pernyataan McDonald's Europe Senin lalu.
Selama ini McDonald's memiliki tiga gerai di Islandia, yang semuanya berlokasi di Ibukota Reykjavik. Maka, mulai Sabtu tengah malam, 31 Oktober 2009, semua gerai itu tutup. Rencananya gerai-gerai itu akan berganti nama menjadi "Metro," yang semua bahannya memakai produk-produk lokal.