VIVAnews - Pengusaha Indonesia diharapkan jangan terlena dengan pasar tradisional, tetapi perlu juga menilik Timur Tengah. Pasalnya, kawasan Timur Tengah adalah lumbung finansial bagi pemasaran produk pangan Indonesia.
Demikian dikatakan para duta besar Republik Indonesia di beberapa negara Timur Tengah dalam konferensi pers seminar Indonesia-Middle East Up Date di Jakarta, Senin 26 Oktober 2009.
"Pengusaha Indonesia masih terlena dengan pasar tradisional, dengan Amerika Serikat, Eropa, Jepang, dan China. Indonesia belum menilik Timur Tengah, padahal Timur Tengah sangat luar biasa," kata Konsulat Jenderal di Jeddah, Arab Saudi, Gatot Abdullah Mansyur.
"Selain telur, susu, terigu dan kurma, Arab Saudi harus mengimpor bahan kebutuhan lain dari luar."
Mansyur menambahkan, saat ini yang paling dibutuhkan di Arab Saudi adalah beras. Selama ini mereka mengimpor beras dari India, Pakistan, dan Nepal. Padahal, tanah di India dan Pakistan makin tidak subur, luasnya menciut karena digunakan untuk perumahan, sehingga beras mulai sulit didapatkan dan harganya semakin mahal.
Bahkan, Raja Abdullah sudah memerintahkan pengusaha-penguasaha Arab Saudi untuk melakukan investasi agribisnis di luar negeri. "Pemerintah Saudi sudah menyediakan US$ 10,5 miliar untuk pinjaman para penguasahanya, kalau diperlukan. Bahkan perusahaan Bin Laden sudah menyiapkan US$ 3,4 miliar untuk menanam padi," kata Mansyur.
Sementara itu, Duta Besar Indonesia di Suriah, Muzamil Basyuni mengatakan, apa pun yang dijual Indonesia di Suriah pasti akan terjual. “Saya kira, kita punya produk ini misalnya, pasti akan laku. Insya Allah semua laku, hanya belum dikenalkan,” lanjutnya.
Demikian pula di Qatar. Duta Besar Indonesia di Qatar, Rozy Munir mengungkapkan, 80 persen produk, khususnya pangan diimpor dari luar. Dari dalam negeri Qatar sendiri hanya menutupi sekitar lima persen kebutuhan pangan.
Dari 1,6 juta orang yang tinggal di Qatar, hanya 300 hingga 350 ribu adalah orang Qatar, sisanya ekspatriat. “Orang India ada 250 ribu, Filipina dan lainnya ada 500 ribu, Indonesia hanya 27 ribu orang di Qatar. Tentunya mereka ingin produk pangan pertanian yang sesuai selera mereka,” kata Munir.
Sedangkan di Mesir, produk unggulan Indonesia adalah minyak kelapa sawit (palm oil). “Nilai ekspor kita untuk kelapa sawit saja itu US$ 600 juta,” kata duta besar Indonesia untuk Mesir, A.M Fachir.
“Saingan kita cuma Malaysia. Namun sekarang justru hampir 64 persen kita yang memenuhi kebutuhan palm oil di Mesir. Kalau dulu Malaysia.”
Para duta besar tersebut mengungkapkan, tentu banyak hal yang ditemui untuk meningkatkan ekspor produk pertanian Indonesia ke Timur Tengah.
“Untuk biaya transportasi, kita tidak bisa bersaing dengan Malaysia, Filipina, India, dan negara-negara di dekat sana. Kemudian soal penerbangan, kargo storage, dan birokrasi,” ujar Munir.
Kedua, karakteristik orang arab, termasuk Qatar, dalam hal menjalin kedekatan hubungan. “Misi-misi perdagangan dari pemerintah dan swasta untuk membangun citra yang bisa ditunjukkan ke Qatar banyak dilakukan Singapura, Malaysia, dan Thailand. Mau tidak mau seolah-olah Malaysia lebih punya variasi produk-produk yang dibutuhkan,” ujar Munir.
Kemudian masih ada persoalan promosi, dan juga peran media. Selain itu juga otonomi daerah yang kurang sinergis dengan kebijakan-kebijakan pusat. “Otonomi daerah bukan pesaing pusat. Ke depannya, kalau pusat menerima investor, daerah juga harus menerima,” kata Mansyur.
hadi.suprapto@vivanews.com